Reliance Securities: IHSG Bergerak Variatif Cenderung Menguat

Kompas.com - 19/01/2017, 08:20 WIB
Suasana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (22/11/2016). KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (22/11/2016).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (19/1/2017) diperkirakan bergerak variatif cenderung menguat.

IHSG diprediksi akan bergerak dalam rentang 5.242-5.350.

"Saham-saham yang dapat diperhatikan diantaranya BBCA, BBNI, INCO, SMGR, CTRA, ELSA, LPPF, PTPP, serta SCMA," kata analis dari Reliance Securities Lanjar Nafi, melalui keterangan tertulis, Kamis.

Kemarin, Rabu (18/1/2017) IHSG ditutup menguat untuk pertama kalinya sejak seminggu terakhir. IHSG menguat 27,85 poin sebesar 0,53 persen di level 5.294,78 dengan volume yang moderat.

Indeks sektor pertanian menjadi pemimpin penguatan dengan menguat 1,78 persen didorong naiknya harga komoditas pertanian.

"Meningkatnya produk domestik bruto 5 persen di 2016 menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi katalis positif menyusul spekulasi investor yang hanya memprediksi di level 4,7 persen di 2016," jelas Lanjar.

Pertumbuhan investasi swasta dan konsumsi rumah tangga menjadi pendorong terhadap pertumbuhan ekonomi. Investor asing pun melihat positif dengan tercatat aksi beli bersih sebesar Rp 63,15 miliar.

Bursa Asia dan Eropa

Bursa Asia mayoritas ditutup menguat setelah hampir dua pekan tertekan aksi jual investor terhadap ekuitas. Harga asset haven untuk pertama kalinya sejak hampir dua minggu terakhir terkoreksi.

"Spekulasi upaya pemerintah China untuk memastikan stabilitas pasar menjadi pendorong penguatan saham di China. Begitupun pelemahan Yen menjadi trigger penguatan bursa saham Jepang," ujar Lanjar.

Sementara itu, Bursa Eropa dibuka menguat tertahan di awal sesi perdagangan. Saham Eropa terbebani Pearson yang terjatuh paling dalam setelah peringatan laba dirilis.

Tingkat inflasi di Jerman stagnan di level 1,7 persen YoY juga menjadi beban pergerakan positif dari pelemahan asset haven.

"Sentimen selanjutnya Investor akan merefleksikan data tingkat inflasi di AS, indeks harga rumah di China, tingkat pekerja di Australia, kebijakan moneter ECB dan komposisi neraca pembayaran di Eropa," kata Lanjar.

Selain itu, perdagangan akan diwarnai aksi tunggu investor terhadap persediaan minyak di AS guna berspekulasi harga minyak mentah dunia.

Kompas TV Prediksi Kondisi IHSG di Awal Tahun 2017



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X