Terus Turun, Pangsa Pertanian Terhadap Perekonomian Nasional

Kompas.com - 30/03/2017, 19:06 WIB
Sektor pertanian Indonesia terus terancam dengan kian menyusutnya jumlah lahan dan jumlah petani. Generasi muda enggan terjun di bidang pertanian. Pemerintah perlu membuat kebijakan strategis untuk menyelamatkan pertanian Tanah Air. Tampak salah satu sawah yang ditawarkan untuk dijual di Desa Ampeldento, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (22/2/2017). KOMPAS/DAHLIA IRAWATISektor pertanian Indonesia terus terancam dengan kian menyusutnya jumlah lahan dan jumlah petani. Generasi muda enggan terjun di bidang pertanian. Pemerintah perlu membuat kebijakan strategis untuk menyelamatkan pertanian Tanah Air. Tampak salah satu sawah yang ditawarkan untuk dijual di Desa Ampeldento, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (22/2/2017).
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

SEMARANG, KOMPAS.com – Indonesia pernah dikenal sebagai negara agraris atau pertanian. Akan tetapi, dengan berbagai macam permasalahan yang terjadi, apakah status tersebut masih dikalungkan kepada Indonesia?

Bank Indonesia (BI) mencatat, pangsa sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Bahkan, pada tahun 2016 lalu, kontribusinya terhadap PDB hanya mencapai 13,45 persen.

“Memang dalam 10 tahun terakhir pangsa sektor pertanian turun dari 22,09 persen pada tahun 1990 menjadi sekitar 13 persen pada tahun 2016,” ujar Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo pada acara media briefing Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah di Crowne Plaza Hotel Semarang, Kamis (30/3/2017).

Tidak hanya itu, dalam hal struktur tenaga kerja sektoral, kontribusi sektor pertanian juga terus menurun. Pada tahun 1990, porsi tenaga kerja sektor pertanian mencapai 55,1 persen secara nasional.

Akan tetapi, angka tersebut merosot menjadi 45,1 persen pada tahun 2000. Penurunan tersebut pun terus berlanjut hingga tahun 2016, di mana porsi tenaga kerja sektor pertanian tinggal mencapai 31,9 persen.

Dody menyatakan, bank sentral memandang ada beberapa permasalahan yang dialami sektor pertanian, termasuk pangan. Masalah-masalah tersebut antara lain penurunan produksi, distribusi, dan permasalahan keterjangkauan harga.

Dalam masalah produksi, hal-hal yang terkait adalah kapasitas, produktivitas petani, insentif kepada petani, dan data pertanian yang tidak akurat. Adapun permasalahan distribusi antara lain soal panjangnya tata niaga, pelaku-pelaku yang dominan, dan pembentukan harga dikuasai oleh beberapa pelaku pasar saja.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bangun PLTA di Sumbar, PLN Dapat Dana Hiba Rp 20,55 dari Perancis

Bangun PLTA di Sumbar, PLN Dapat Dana Hiba Rp 20,55 dari Perancis

Whats New
Lelang Aset Asabri dan Jiwasraya, DJKN: Target Dapat Hasil Setinggi-tingginya

Lelang Aset Asabri dan Jiwasraya, DJKN: Target Dapat Hasil Setinggi-tingginya

Whats New
Kemenhub Mediasi Penyelesaian Santunan Pelaut RI yang Meninggal di Singapura

Kemenhub Mediasi Penyelesaian Santunan Pelaut RI yang Meninggal di Singapura

Whats New
Kapan Moge dan Brompton Selundupan Mantan Dirut Garuda Dilelang? Ini Kata DJKN

Kapan Moge dan Brompton Selundupan Mantan Dirut Garuda Dilelang? Ini Kata DJKN

Whats New
[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Perawatan Spooring dan Balancing | Masyarakat Jepang Ogah Gunakan Kendaraan Pribadi

[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Perawatan Spooring dan Balancing | Masyarakat Jepang Ogah Gunakan Kendaraan Pribadi

Rilis
IHSG Anjlok 1 Persen di Akhir Pekan, Rupiah Ikut Melemah

IHSG Anjlok 1 Persen di Akhir Pekan, Rupiah Ikut Melemah

Whats New
Saham Unilever Indonesia Anjlok 30,95 Persen sejak Awal Tahun, Ini Pemicunya

Saham Unilever Indonesia Anjlok 30,95 Persen sejak Awal Tahun, Ini Pemicunya

Whats New
Banyak Penipuan Lelang, Ini Ciri-cirinya

Banyak Penipuan Lelang, Ini Ciri-cirinya

Whats New
Mau Jadi Pemenang Lelang di Lelang.go.id? Ini Tips Kemenkeu

Mau Jadi Pemenang Lelang di Lelang.go.id? Ini Tips Kemenkeu

Spend Smart
Minat Work From Bali? Ini 4 Hal yang Perlu Dipersiapkan

Minat Work From Bali? Ini 4 Hal yang Perlu Dipersiapkan

Whats New
Buktikan Kepedulian akan Pasien Covid-19, “Pengusaha Peduli NKRI” Gelar Donor Plasma Konvalesen

Buktikan Kepedulian akan Pasien Covid-19, “Pengusaha Peduli NKRI” Gelar Donor Plasma Konvalesen

Rilis
Pelindo II Tindak Tegas 12 Pelaku Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok

Pelindo II Tindak Tegas 12 Pelaku Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok

Whats New
Masih Terbebani The Fed, Harga Bitcoin Lanjutkan Penurunan

Masih Terbebani The Fed, Harga Bitcoin Lanjutkan Penurunan

Whats New
[TREN EDUKASI KOMPASIANA] Tabel Periodik dengan Jembatan Keledai | Vibranium pada Tabel Periodik

[TREN EDUKASI KOMPASIANA] Tabel Periodik dengan Jembatan Keledai | Vibranium pada Tabel Periodik

Rilis
Cerita Kara Nugroho, Bangun Bisnis PVRA hingga Ikut London Fashion Scout

Cerita Kara Nugroho, Bangun Bisnis PVRA hingga Ikut London Fashion Scout

Smartpreneur
komentar di artikel lainnya
Close Ads X