Tingkatkan Produksi, Lahan Karet Tua akan Diremajakan

Kompas.com - 02/04/2019, 08:14 WIB
Perkebunan karetDok. Humas Kementerian Pertanian RI Perkebunan karet

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berencana menanam ulang sebagian lahan karet yang sudah tidak produktif untuk menjadi lahan karet yang baru. Sementara sebagian lagi akan ditanami tanaman hortikultura yang juga memiliki nilai jual.

Deputi VII Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Affandi Lukman mengatakan, peremajaan lahan karet akan berdampak jangka panjang pada produksi karet di Indonesia.

"Ini akan meningkatkan produktivitas dan antisipasi kebutuhan karet di dalam negeri," ujar Rizal di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (1/4/2019).

Tahun ini, pemerintah menargetkan lahan karet yang ditanam ulang seluas 5.000-6.000 hektar. Jika program sudah berjalan penuh, kata Rizal, maka targetnya bisa 50.000 hektar lahan karet pertahun.

Baca juga: 2019, Jokowi akan Bangun 65 Km Jalan Berlapis Aspal Karet

Rizal mengatakan, pemerintah menaruh perhatian pada komoditas karet karena merupakan salah satu ekspor terbesar di Indonesia.

"Karet bukan hanya penting buat para petani, tapu juga komoditi ekspor nonmigas yang perannya signifikan buat ekspor nonmigas di Indonesia," kata Rizal.

Sementara target produksi karet 2019 dengan adanya program tersebut adalah 200.000-300.000 ton. Rencana penanaman ulang lahan karet ini menyusul implementasi kebijakan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) ke-6.

Dalam kesepakatan itu, Indonesia, Malaysia, dan Thailand akan mengurangi volume ekspor negara masing-masing untuk menahan arus pasokan dunia. Kemudian, masing-masing negara akan mengalihkan volume ekspor yang dikurangi itu untuk konsumsi dalam negeri.

Di Indonesia sendiri, produksi karet akan digunakan sebagai rubberised road, yaitu jalan berlapis campuran aspal dan karet, serta vulkanisasi.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan Muhri memastikan, pengurangan volume ekspor karet tak akan mengurangi devisa negara yang masuk. Sebab, harga karet dunia juga tengah menanjak.

"Kalaupun ada pengurangan volume ekspor, nilainya belum tentu berkurang. Karena ada kenaikan harga yang signifikan," kata Kasan.

Hingga akhir 2018 lalu, harga karet terus merosot hingga 1,2 dollar AS perkilogram. Sejak pembahasan pertama soal karet dilakukan, harganya mylai merangkak naik menjadi 1,4 dollar AS perkilogram. Menurut Kasan, harga ini cukup ideal bagi para petani.

"Kita harap harga bisa membaik. Kalau mencapai 2 dollar sudah sangat kita targetkan," kata Kasan.




Close Ads X