Garuda: Kami Hanya Mengambil Untung 2 Persen dari Penjualan Tiket

Kompas.com - 08/05/2019, 21:39 WIB
Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah (tengah) berjalan menyapa penumpang Garuda Indonesia dalam penerbangan Jakarta-Balikpapan, Jumat (7/12/2018). Garuda Indonesia meluncurkan layanan penerbangan bernuansa klasik bertajuk Garuda Indonesia Vintage Flight Experience dari tanggal 7-17 Desember 2018KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah (tengah) berjalan menyapa penumpang Garuda Indonesia dalam penerbangan Jakarta-Balikpapan, Jumat (7/12/2018). Garuda Indonesia meluncurkan layanan penerbangan bernuansa klasik bertajuk Garuda Indonesia Vintage Flight Experience dari tanggal 7-17 Desember 2018

JAKARTA, KOMPAS.com — Maskapai Garuda Indonesia mengaku margin keuntungannya sangat kecil dari penjualan tiket dengan harga yang saat ini berlaku di masyarakat.

“Jadi pendapatan Garuda itu kalau dari tiket paling untung 2 persen,” ujar Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah di Tangerang, Rabu (8/5/2019).

Atas dasar itu, manajemen Garuda Indonesia harus putar otak agar bisa mendulang keuntungan. Salah satu caranya dengan mengembangkan lini bisnis lain di luar penjualan tiket.

Baca juga: Masyarakat Kecewa Harga Tiket Pesawat Masih Mahal, Apa Kata Menhub?

“Sebagai contoh, satu stiker kecil di pesawat itu sudah puluhan miliar harganya. Iklan kita tuh gede sekali. Iklan di TV kita juga gede. Garuda akan mengubah konsep bisnisnya dari hanya jual tiket menjadi jualan brand. Garuda selama ini kalau kerja sama kan bayar, kalau sekarang Garuda dibayar,” kata Pikri.

Menurut Pikri, selama ini ada tiga pengeluaran besar dari maskapai untuk kebutuhan operasionalnya. Pertama, pengeluaran terbesar berasal dari bahan bakar, kedua perawatan pesawat, dan ketiga biaya sewa pesawat.

“Itu sudah 70 persen dollar semua, (sementara) pendapatan kita rupiah,” ucap dia.




Close Ads X