Direktur Keuangan Garuda Curhat soal Saham yang Anjlok

Kompas.com - 09/05/2019, 08:11 WIB
Staf teknisi perempuan Garuda Indonesia memeriksa bagian pesawat KOMPAS.com / Silvita AgmasariStaf teknisi perempuan Garuda Indonesia memeriksa bagian pesawat

JAKARTA, KOMPAS.com - Laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2018 menuai polemik. Imbasnya, harga saham emiten berkode GIIA itu pun anjlok.

Direktur Keuangan Garuda Indonesia Fuad Rizal mengatakan, padahal setelah dirinya resmi ditunjuk sebagai direksi maskapai pelat pada September 2018, harga saham GIIA sempat melonjak.

“Saya orang paling sedih di Garuda karena harga saham turun. Kami ditunjuk direksi September 2018. Dari mulai 12 September sampai dengan pertengahan bulan Maret saham Garuda sempat tertinggi di Rp 630 per lembar saham,” ujar Fuad di Tangerang, Rabu (8/5/2019).

Padahal  kata Fuad, harga saham Garuda sempat melonjak karena pihaknya melakukan beragam inovasi untuk memberikan layanan tambahan ke penumpang.

Baca juga: Chairal Tanjung Tolak Laporan Keuangan Garuda Indonesia, Apa Sebabnya?

Harga saham Garuda sendiri sempat anjlok hingga berada di kisaran Rp 394 per lembar saham. Hal tersebut terjadi setelah laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2018 menjadi sorotan setelah mencatatkan keuntungan.

“Kenapa berita tentang kami itu berkepanjangan membahas transaksi ini (Mahata). Ini justru merugikan Garuda sehingga harga sahamnya turun,” kata Fuad.

Sebelumnya, diberitakan laporan keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tahun lalu ditolak oleh dua komisarisnya yakni Chairal Tanjung dan Dony Oskaria.

Chairal Tanjung merupakan perwakilan dari PT Trans Airways dan Dony wakil dari Finegold Resources Ltd yang menguasai 28,08 persen saham GIAA.

Penolakan keduanya didasarkan atas Perjanjian Kerjasama Penyediaan Layanan Konektiivitas Dalam Penerbangan antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia tanggal 31 Oktober 2018 lalu beserta perubahannya.

Dari perjanjian tersebut, pendapatan GIAA dari Mahata sebesar 239,94 juta dollar AS yang sebesar 28 juta dollar AS yang didapatkan dari bagi hasil yang didapatkan PT Sriwijaya Air seharusnya tidak dapat diakui dalam tahun buku 2018.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X