Selamat Datang Maskapai Penerbangan Asing di Indonesia

Kompas.com - 03/06/2019, 10:23 WIB
Mahalnya harga tiket yang dimulai awal tahun hingga jelang lebaran, pergerakan pesawat dan penumpang yang di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar sepi. Pergerakan pemudik lewat jalur udara ini terlihat hingga H-5 hari raya Idul Fitri 1440 H, Jumat (31/5/2019). KOMPAS.com/HENDRA CIPTOMahalnya harga tiket yang dimulai awal tahun hingga jelang lebaran, pergerakan pesawat dan penumpang yang di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar sepi. Pergerakan pemudik lewat jalur udara ini terlihat hingga H-5 hari raya Idul Fitri 1440 H, Jumat (31/5/2019).

Kenapa harus dilindungi? Sebab, jejaring penerbangan domestik bukan semata sarana untuk memperolah keuntungan secara finansial belaka.

Di dalamnya terdapat kepentingan negara dalam penyelenggaraan pembangunan nasional yang berkait dengan dukungan administrasi logistik pada tata kelola pemerintahan dan sarana pelayanan publik.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, mengapa kita sekarang ini menghadapi permasalahan serius dalam persoalan tarif angkutan udara yang dipandang sebagai tidak terjangkau lagi dan bahkan telah disebut-sebut menjadi salah satu penyebab faktor pemicu naiknya angka inflasi?   

Mahalnya harga tiket menyebabkan efek domino lainnya. Harga tiket yang tinggi membuat jumlah penumpang menurun. Turunnya jumlah penumpang menyebabkan turunnya hunian hotel di daerah dan turunnya kunjungan wisatawan domestik.

Nah, mengapa kini kita menghadapi persoalan serius di atas?

Jawabannya sedikit panjang. Kita harus merunutnya sejak penerbangan niaga berkembang pesat sejak de-regulasi pada 1990-an atau awal 2000-an. Banyak maskapai baru domestik muncul. Jumlah armada pun berkembang cepat. Akibatnya, persaingan antar-maskapai menjadi semakin ketat.

Di tengah persaingan ketat yang terlihat “kurang sehat” itu, muncullah model bisnis penerbangan murah. Harganya kadang tidak masuk akal yaitu nyaris sama atau bahkan lebih murah dibanding moda transportasi darat dan laut.

Dari sini muncul regulasi tentang aturan harga tiket batas atas dan batas bawah. 

Slogan setiap orang bisa terbang dengan harga tiket “murah” yang berkembang pesat ketika itu sama sekali dibiarkan berlalu dan tidak diselidiki apa gerangan sebenarnya yang tengah berlangsung. 

Padahal, fenomena itu penting untuk diselidiki. Sebab, booming harga tiket murah dibarengi dengan sejumlah kecelakaan pesawat terbang. Bahkan, ada  maskapai yang akhirnya gulung tikar karena bangkrut.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X