Ekonomi Global Anjlok Akibat "Trade War", Indonesia Dukung Digitalisasi Perdagangan

Kompas.com - 11/06/2019, 12:29 WIB
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sekaligus politisi Partai Nasdem saat menghadiri acara Partai Nasdem di Swissbelinn Hotel Karawang, Minggu (7/4/2019).

KOMPAS.com/FARIDA FARHAN Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sekaligus politisi Partai Nasdem saat menghadiri acara Partai Nasdem di Swissbelinn Hotel Karawang, Minggu (7/4/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita memimpin delegasi Indonesia pada Pertemuan Menteri Perdagangan Negara Anggota G20 pada 8 dan 9 Juni 2019 di Tsukuba, Ibaraki, Jepang.

Dalam forum tersebut, ia menyampaikan bahwa Indonesia mendukung G20 dalam melakukan perbaikan ekonomi global dan digitalisasi perdagangan.

Enggar mengatakan, pertemuan tingkat menteri itu menghasilkan kesepakatan utama mengenai pentingnya peranG20 dalam mengurangi ketegangan perdagangan global dan memberikan sinyal positif bagi dunia usaha melalui dorongan politis yang kuat bagi peningkatan fungsi World Trade Organization (WTO).

"Kesepakatan ini merupakan respons dari kondisi ekonomi global yang tengah menurun akibat ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang terjadi saat ini," ujar Enggar dalam keterangaan tertulis, Selasa (11/6/2019).

Enggar menambahkan, kesepakatan tersebut akan menjadi masukan bagi para pemimpin G20 pada Konferensi Tingkat Tinggi G20 yang dijadwalkan berlangsung pada 28—29 Juni 2019 di Osaka, Jepang.

Selain itu, ada tiga pesan utama dari Presidensi Jepang dalam Forum G20 tahun ini. Pertama, perlunya kerja sama negara-negara anggota G20 di sektor perdagangan dan investasi guna mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi global. Perdagangan dan investasi, kata Enggar, merupakan mesin utama penggerak pertumbuhan, produktivitas, inovasi, dan penyediaan lapangan kerja.

Kedua, memperbaharui aturan pengaturan subsidi di sektor industri. Terakhir, pentingnya memberikan arah dari isu reformasi WTO.

Menurut Enggar, Indonesia memandang reformasi WTO sebagai hal penting untuk memulihkan sistem perdagangan multilateral dan mengembalikan kredibilitasnya.

"Hal utama yang menjadi fokus dan prioritas saat ini adalah mekanisme penyelesaian sengketa dan pemilihan anggota badan majelis banding," kata Enggar.

Srlain itu, peningkatan fungsi perundingan juga harus fokus pada isu yang belum terselesaikan di putaran Doha seperti pertanian, perikanan, dan perlakukan khusus dan berbeda.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X