Jangan Suruh Mereka Pulang dari Silicon Valley

Kompas.com - 13/06/2019, 07:31 WIB
Ilustrasi Silicon Valley HBOIlustrasi Silicon Valley

PICHAI Sundaradjan hanyalah anak kemarin sore di Madurai, Tamil Nadu, India. Setelah lulus dari Indian Institute of Technology di Kharagpur, ia mengadu nasib ke Amerika dan bekerja di Applied Materials, lalu lanjut sebagai konsultan di McKinsey & Co.

Tak puas sukses sekedar berkarir di Amerika, ia menambah ilmunya dengan belajar di dua kampus prestisius di Amerika untuk meraih dua gelar Masternya: di Stanford untuk belajar Material Sciences & Engineering, lalu di Wharton Business School untuk MBA-nya.

Nasib baik tak berhenti di situ. Tahun 2004 ia bergabung dengan Google dan sejak itu bertanggungjawab atas pengembangan berbagai layanan Google yang kita nikmati setiap hari saat ini: Google Chrome, Gmail, Google Maps, Google Drive, termasuk pengembangan terus menerus Android OS.

Tanggal 10 Agustus 2015 dia diangkat menjadi CEO Google LLC oleh duo pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin. Hari ini, Sundar Pichai – dengan nama itu ia dikenal luas – menjadi salah satu orang yang paling berpengaruh tak hanya di Silicon Valley, tetapi juga di planet Bumi.

Baca juga: Sempat Nyaris Gagal, Ini Cara CEO Google Lolos Wawancara Kerja

Sundar Pichai tak sendirian mengalami nasib baik seperti ini. Kompatriotnya asal India kelahiran Hyderabad, Satya Nadella bahkan menjadi CEO Microsoft setahun sebelumnya. Ini melengkapi daftar India perantauan yang seakan menancapkan bendera-bendera mereka di puncak Everest korporasi-korporasi besar dunia.

Sebut saja Indira Nooyi kelahiran Madras yang jadi CEO Pepsi Co, Ajaypal Singh Banga kelahiran Pune yang menjadi CEO Mastercard, atau Shantanu Narayen yang menjadi CEO Adobe, Rajeev Suri kelahiran New Delhi yang menjadi CEO Nokia, dan juga Sanjay Kumar Jha yang menjadi CEO Motorola Mobility setelah sebelumnya menjabat sebagai COO Qualcom.

Oo, jangan salah. Saya tak membahas hal yang sangat spesifik tentang India dan orang-orang hebatnya. Memang menurut penelitian di Universitas Southern New Hampshire, para manajer India di perantauan, artinya tak hanya di Silicon Valley saja, rata-rata sukses berkarir di korporasi karena ‘paradoxial blend of genuine personal humility and intense professional will’.

Tunggu dulu, mari kita cerna karakteristik pertama: genuine personal humility. Bukankah rata-rata (tanpa menggeneralisasi) orang Asia Selatan dan Tenggara memiliki karakteristik itu?

Sekarang mari kita cerna di mana letak paradoks-nya: intense professional will. Nah, barangkali inilah kekuatan kultur orang-orang India perantauan. Mereka sangat kompetitif dan agresif menjadi yang terbaik di kelasnya, di angkatannya, di perusahaannya. Sampai di sini saya puas memahaminya.

Apakah mereka harus pulang kampung?

Ya dan tidak. Mari kita lihat petualangan kehidupan si anak miskin asal Ukraina, Jan Koum. Bersama Brian Acton ia mengembangkan instant messaging terpopuler saat ini, Whatsapp (WA), dan saat Facebook mengakuisisi WA dengan harga fantastis senilai 19 miliar dollar AS, apakah Ukraina lalu memanggilnya pulang sebagai borjuis baru? Tidak.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X