Outlook Makro Bergeser dari Asumsi Awal APBN 2019

Kompas.com - 03/07/2019, 07:16 WIB
Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong (kanan) berbicara dengan Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri) dan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati (tengah) sebelum sesi 3 tentang partisipasi tenaga kerja perempuan, masa depan pekerjaan, dan masyarakat lanjut usia saat berlangsungnya KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). AFP/POOL/KAZUHIRO NOGIPerdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong (kanan) berbicara dengan Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri) dan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati (tengah) sebelum sesi 3 tentang partisipasi tenaga kerja perempuan, masa depan pekerjaan, dan masyarakat lanjut usia saat berlangsungnya KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan, ada pergeseran prediksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga akhir 2019 setelah melihat capaian makro di kuartal 1 2019. Pertama, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I sebesar 5,01 persen.

Sementara asumsi di APBN 2019 sebesar 5,3 persen. Pada kuartal II, pertumbuhan ekonomi diprediksi masih di bawah target, berkisar 5,02-5,13 persen. Angkanya lebih rendah daripada realisasi kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen.

"Outlook 2019 di 5,2 persen, lebih rendah 0,1 persen dari APBN," ujar Sri Mulyani di kompleks DPR RI, Jakarta, Selasa (2/7/2019).

Selain itu, inflasi di kuartal I sebesar 2,38 persen. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, inflasi sebesar 3,32 persen. Hingga akhir 2019, Sri Mulyani memprediksi inflasi bertengger di angka 3,12 persen. Anglanya masih lebih rendah darpada asumsi APBN sebesar 3,5 persen. 

Pergeseran prediksi juga terjadi pada nilak tukar. Belakangan Rupiah menunjukkan kecenderungan menguat. Berbeda dengan tahun lalu, di mana rupiah sempat tembus di atas Rp 15.000 perdollar AS.

Hal itu yang membuat pemerintah tahun lalau membuat asumsi nilai tukar rupiah sepanjang 2019 ada di angka Rp 15.000.

Ternyata, di kuartal I 2019, nilai rupiah hanya Rp 14.140. Per 9 Juni 2019, nilai tukar rupiah mencapai Rp 14.270.

"Kami buat outlook 2019 diperkirakan Rp14.250, lebih kuat darinasumsi awal di Rp 15.000," kata Sri Mulyani.

Dalam asumsi APBN 2019, suku bunga SPN 3 bulaan diperkirakan 5,3 persen. Sementara itu, capaian kuartal I 2019 sebesar 5,8 persen. Sri Mulyani berharap dengan adanya perbaikan rating S&P, maka bisa bergerak turun ke 5,6 persen hingga akhir tahun.

"Hal ini terjadi seirint kenaikan dinamika global dan nilai tukar kita dapat tekanan cukup besar," kata Sri Mulyani.

Sementara itu, untuk harga minyak mentah di kuartal I 2019 60,49 dollar AS perbarel. Sementara asumsi makro awal sebesar 70 dollar AS perbarel. Sri Mulyani mengatakan, isu demand dan supply masih berpotensi mempengaruhi harga minyak global. Sehingga harga ICP diproyeksi naik pada rata-rata 63 dollar AS perbarel dari sebelumnya 60 dollar AS perbarel.

Realisasi lifting minyak dan gas hingga April 2019 sebesar 742.000 bph dan 1,037 juta barel setara minyak perhari. Hingga akhir 2019, outlook lifting minyak mentah diperkirakan hanya 736 dari asumsi APBN sebesar 775.000 bph. Sementara asumsi lifting gas hingga akgir tahun masih sama, yakni 1,25 juta barel setara minyak perhari.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X