Garuda Indonesia dan Anak-anak Muda Melawan Logika Bisnis Lama

Kompas.com - 11/07/2019, 09:58 WIB
Ilustrasi startup Thinkstockphotos.comIlustrasi startup

Heboh tentang Garuda yang sedang menghadapi gempuran opini agar kerja samanya dengan start-up Mahata dibatalkan, membuat saya senyum-senyum sendiri.

Go-jek dan hampir semua super-Apps lainnya termasuk Google, Grab, Traveloka, Tokopedia sedang cash rich. Punya banyak uang. Di sana berkumpul orang-orang progresif, yang tahu bagaimana memanjakan penumpang dan tahu uangnya ada di mana. Mereka tidak se-rigid orang-orang lama yang sok tahu.

Go-jek membutuhkan 4 tahun untuk mendapatkan lebih dari 100 juta partisipan yang mengunduh apps-nya dan menjadikan dirinya super-apps.

Susahnya Meyakinkan Orang-orang Lama

Namun yang menjadi catatan saya, memang paling sulit meyakinkan bisnis cara baru pada orang-orang tua yang pernah sukses dengan cara lama. Padahal cara lama itu sudah obsolete digerus teknologi dan data. Tetapi mereka selalu merasa paling benar.

Contohnya terkait Garuda Indonesia dan laporan keuangannya  terkait kerja sama dengan sebuah startup penyedia layanan internet, Mahata. Belakangan  kerja sama itu dipermasalahkan sebagai buntut dari ribut-ribut laporan keuangan maskapai ini.

Dan celakanya, orang-orang yang selama ini mempermasalahkan Mahata dan laporan keuangan Garuda, jika  diberitahu, mereka cepat sekali naik pitam dan ingin cepat-cepat bilang fraud-lah, salah lah, tidak boleh, batalkan, tidak ada duit lah, modalnya terlalu kecil, dan seterusnya.

Namun coba, jika start up itu ditawarkan ke superApps seperti Google, Gojek, atau Traveloka, saya kok yakin mereka akan dengan cepat menerimanya. Anak-anak muda itulah yang tahu bagaimana cara menciptakan value pada airlines plat merah milik BUMN itu. Caranya riil, bukan "digoreng-goreng" sahamnya seperti yang dilakukan orang-orang yang berbisnis dengan logika lama.

Ini adalah era MO, pakai tagar menjadi #MO. Artinya orang pakai tagar dengan tujuan mobilisasi dan orkestrasi. Sebab di era baru, #MO membuat bisnis harus hidup dari cara mobilisasi dan orkestrasi ekosistem pakai data.

Era #MO itu peradaban entrepreneurship anak-anak muda yang berbasis teknologi. Untuk membuat dampak besar dan ekonomi heboh tak perlu modal besar karena peradaban ini didukung oleh 6 pilar: Artificial Intelligence, Big Data, Super Apps, Broadband Network, Internet of Things dan Cloud Computing.

Mereka dapat duit dengan mengorkestrasi ekosistem, bukan menguasai aset yang besar seorang diri.

Kata kuncinya kolaborasi, sehingga asetnya light. Ini berbeda dengan bisnis orang-orang tua yang heavy asset dan tampak gede di model akunting konvensional.

Tidak Cengeng dan Tak Mudah Menyalahkan

Ini pula yang menjadi biang keributan akuntansi. Makanya di New York Stock Exchange, orang-orang sedang ramai membincangkan buku dari guru besar akuntansi senior dari Stern, Baruch Lev: The End of Accounting.

Masalahnya, standar akuntansi yang kita kenal belum mampu meng-capture “nilai” yang diciptakan oleh startup yang disebut sebagai network effect value. Ini persis sama dengan ramainya perdebatan tentang intangible yang didebatkan boleh atau tidak dihitung dalam perolehan aset 30 tahun lalu.

Perusahaan-perusahaan lama itu tak ada network effect value-nya karena produknya stand-alone. Ini persis seperti kita membandingkan Nokia dengan Iphone atau Adidas dengan Nike, atau ITB dengan Harvard/Tedx.

Dari produk-produk yang saya sebut di atas itu, yang satu cuma jual produk atau jasa. Nokia dapat duit dari gadget belaka. Dia standalone. Sementara Iphone dapat duit dari gadget plus dari App store yang punya jejaring dan data capture-nya. Begitulah cara kerja startup.

Demikian juga antara Adidas dan Nike. Adidas cuma jual sepatu. Nike jual sepatu plus fitness wearables yang memberikan data dan business opportunity baru dari data. Menjadikan sepatu bagian dari bisnis wellness dan sekaligus membongkar model bisnis industri farmasi.

Pun dengan ITB dan UI yang hanya kasih kuliah untuk mahasiswa yang terdaftar dan diterima. Harvard dan TED X kasih bahan-bahan gratis yang mendatangkan data dan bisnis-bisnis baru.

Tentu masih banyak contoh lainnya. Saya bisa sebutkan mulai dari NASA, GE, Kalbe, Halodoc, Prudential, sampai bisnis-bisnis anak muda seperti Wahyoo, Reblood, dan Cari Ustadz. Semua hidup dan menghidupkan ekosistem. Bedanya, mereka tidak cengeng atau saling menyalahkan.

Makanya di era #MO ini, perlu cara-cara baru untuk memanjakan pelanggan. Dalam bisnis airlines juga demikian. Sudah bukan jamannya lagi membebani pelanggan agar mereka bisa mengakses layanan lebih seperti halnya Internet. Dengan menggandeng startup, maka layanan bisa menjadi lebih murah dan penumpang happy. Maskapai pun juga meraih pendapatan tambahan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X