Wamen ESDM soal PLT Sampah: Listrik yang DIhasilkan adalah Bonus...

Kompas.com - 20/07/2019, 13:44 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Sumur Batu, Bantar Gebang, Bekasi. Vitorio MantaleanPembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Sumur Batu, Bantar Gebang, Bekasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus terlibat aktif dalam usaha percepatan pembangunan Pembangunan Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Hal ini sebagai sebagai bentuk tanggung jawab menyediakan energi terbarukan berbasis biomassa setempat.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, melalui kebijakan itu selain tercipta penyediaan energi listrik secara terjangkau juga sekaligus dapat memperbaiki kualitas lingkungan.

"Dukungan kami berupa implementasi program waste to energy. Membangun PLT Sampah bertujuan untuk membersihkan sampah itu sendiri. Nilai ekonomi dari listrik yang dihasilkan adalah bonus yang patut disyukuri," ungkap Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Baca juga: PLN Gunakan Pelet dari Sampah untuk Pembangkit Listrik

Sementara Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi menyebutkan, terhitung sejak tahun 2019 hingga 2022 mendatang, terdapat 12 (dua belas) PLTSa yang siap beroperasi.

"Sesuai rencana, 12 pembangkit tersebut akan mampu menghasilkan listrik hingga 234 Megawatt (MW) dari sekitar 16.000 ton sampah per hari," kata dia,

Adapun kota-kota tersebut antara lain, Surabaya (10 MW) akan menjadi kota pertama yang mengoperasikan pembangkit listik berbasis biomassa tersebut dari volume sampah sebesar 1.500 ton/hari dengan nilai investasi sekitar 49,86 juta dollar AS.

Lokasi PLTSa kedua berada di Bekasi. PLTSa tersebut menelan investasi 120 juta dollar AS dengan daya 9 MW.

Kemudian  ada tiga pembangkit sampah yang berlokasi di Surakarta (10 MW), Palembang (20 MW) dan Denpasar (20 MW). Total investasi untuk menghasilkan setrum dari tiga lokasi yang mengelola sampah sebanyak 2.800 ton/hari sebesar 297,82 juta dlolar AS.

Sementara DKI Jakarta sebesar 38 MW dengan investasi 345,8 juta dollar AS, Bandung (29 MW - 245 juta dollar AS), Makassar, Manado dan, Tangerang Selatan dengan masing-masing kapasitas sebesar 20 MW dan investasi yang sama, yaitu 120 juta dollar AS.

Baca juga: Gandeng Perusahaan Jerman, Adhi Karya akan Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Dari 12 usulan pembangunan PLTSa yang ada, empat di antaranya memiliki perkembangan yang cukup baik dan menunggu penyelesaian di tahun ini, di antaranya Surabaya, DKI Jakarta, Bekasi, dan Solo.

Bahkan, pembangunan PLTSa di kota-kota tersebut dimonitor langsung oleh Presiden Joko Widodo. "Betul, kota-kota tadi termasuk di Bali menjadi prioritas utama penanganan sampah di bawah pengawasan Bapak Presiden," kata Agung.

Kehadiran PLTSa turut membantu menciptakan lingkungan hidup yang berkelanjutan sesuai Nawacita Pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla.

"Semangat dari pembangunan PLTSa ini tidak hanya terletak pada urusan penyediaan listrik semata. Pemerintah bertekad membenahi manajemen sampah demi menciptakan lingkungan yang sehat," ucap Agung.

Baca juga: Menteri Susi Dukung Pengembalian 5 Kontainer Sampah ke AS

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Antara
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X