YLKI: Penandaan Kandungan Pemanis Buatan pada Label Pangan Belum Efektif

Kompas.com - 11/10/2019, 13:39 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ( YLKI) menilai penandaan kandungan pemanis buatan pada label pangan belum efektif.

Sebab, label pemanis buatan pada pangan yang kerap ditemui di warung-warung dan supermarket masih terlalu kecil untuk dilihat secara kasat mata. Artinya, perlu perhatian mendetail untuk mencari label tersebut.

"Informasi yang disampaikan pada label tidak informatif, kalah dengan klaim produk. Tulisannya kecil, samar-samar, dan tersembunyi," kata Ketua Harian YLKI Tulus Abadi di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Tulus menilai, label pemanis buatan pada bahan pangan itu justru terkesan disembunyikan, karena terletak di area yang kurang bisa dijangkau konsumen.

"Jadi letaknya di dalam lipatan yang tersembunyi, di pinggir-pinggir, dan di bagian paling bawah dengan cetakan kecil. Ini yang saya kira sangat mengecewakan. Potensi untuk terjadi dampak yang lebih buruk dalam jangka panjang bagi konsumen rentan," ucap dia.

Apalagi, kata dia, minat baca orang Indonesia rendah dan minim literasi informasi. Hal-hal seperti itu seharusnya tidak dijadikan "peluang" bagi pelaku usaha untuk melabelkan pemanis buatan dengan ukuran terbatas.

Malas Membaca

Tulusbilang, bisa saja banyak pula masyarakat yang kurang paham karena malas membaca. Sehingga tidak menemukan kejanggalan pada konsumsi yang dimakan sehari-hari.

"Ada berbagai perilaku masyarakat. Bisa jadi enggak paham, atau karena konsumen tidak membaca," tutur Tulus.

"Seharusnya ketika ada informssi penting, harus ada kata-kata yang secara jelas, dan tempatnya mesti mudah dilihat agar pesannya sampai. Dengan begini (tulisan diperkecil) kan hanya setengah hati saja memberi informasinya," imbuh dia.

Sebagai informasi, YLKI telah melakukan survey dengan menganalisis 25 merek produk pangan yang terkenal di pasaran. 25 Produk itu menampilkan label pemanis buatan tapi sangat terbatas.

YLKI juga melakukan survei kepada 90 konsumen dari periode Maret hingga April 2019. Survey itu menghasilkan, 43,3 persen balita pernah mengonsumsi pangan pemanis buatan minuman serbuk, 70 persen ibu hamil dan 80 persen ibu menyusui mengonsumsi produk bumbu masakan.

Kemudian, 51 persen responden jarang membaca label pangan yang akan dibelinya. 96 persen responden juga tidak mengetahui nama-nama jenis pemanis buatan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X