Genjot Rasio Elektrifikasi di Papua dan Papua Barat, Ini Langkah PLN

Kompas.com - 15/10/2019, 16:11 WIB
Ilustrasi listrik, meteran listrik ShutterstockIlustrasi listrik, meteran listrik

JAKARTA, KOMPAS.com - Dibandingkan provinsi-provinsi lain yang ada di Indonesia, rasio elektrifikasi di Papua dan Papua Barat masih tertinggal.

Berdasarkan data yang dipaparkan Direktur Bina Program Kelistrikan Kementerian ESDM Jisman S, untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik (RDB) 100 persen di Provinsi Papua dan Papua Barat pada 2020, masih ada 414 desa dengan 78.000 rumah yang harus dilistriki.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Provinsi Papua dan Papua Barat saat ini adalah 98,3 persen, yang dicapai melalui kontribusi PT PLN (Persero) sebanyak 48,5 persen, program LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) dari Kementrian ESDM dan listrik swadaya inisiatif pemda-pemda setempat.

Sementara tingkat rasio elektrifikasi nasional PLN mencapai 98,86 persen.

Baca juga: Masih Ada 1.724 Desa di Papua dan Papua Barat Belum Teraliri Listrik

Dalam keterangan resminya, Selasa (15/10/2019), PLN menyatakan bakal melistriki 1.724 desa di Papua. Dengan demikian, target besarnya pada akhir 2020 rasio elektrifikasi nasional mencapai 99,9 persen.

Untuk mewujudkan rencana besar tersebut, langkah awal yang diperlukan adalah merancang survei untuk memetakan sisem kelistrikan yang tepat untuk pedesaan Papua yang memiliki bentang alam yang sangat beragam.

Salah satu upaya yang dilakukan PLN adalah dengan pembangkit Piko Hidro. Pembangkit ini membutuhkan potensi aliran air bagus, kondisi keamanan kondusif, dan seluruh masyarakat mendukung serta membantu program pembangunannya.

Piko Hidro merupakan pembangkit listrik tenaga air berkapasitas sangat kecil, yakni 1-100 KWH. Jauh di bawah cara kerjanya, air yang telah dibendung dialirkan ke dalam bak penampung yang berisi turbin sehingga aliran air akan memutar turbin tersebut.

Baca juga: Pertamina dan PLN Patungan Garap Bisnis Listrik dari Energi Terbarukan

Selanjutnya turbin akan memutar generator yang pada akhirnya menghasilkan listrik.

Kepala Divisi Konstruksi Regional Maluku dan Papua PT PLN (Persero) Robert Aprianto Purba menjelaskan, keunggulan teknologi PLTPH adalah cocok digunakan di daerah terpencil.

"Piko Hidro hanya butuh ketinggian air 1-3 meter dan debit 30 liter per detik. Jadi cocok digunakan di daerah terpencil,” jelas Robert.

Selain itu biaya investasinya pun tergolong murah, yakni sekitar Rp 30 juta per unit dengan biaya pemeliharaan yang minimum dan tidak memerlukan biaya bahan bakar.

"Piko Hidro ini pun mudah dirakit dan dioperasikan serta bisa beroperasi selama 24 jam sesuai dengan debit air. Teknologi ini membuatnya cocok untuk diterapkan di daerah terpencil yang memiliki debit air yang sesuai,” sebut Robert.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X