Bahana Pangkas Proyeksi IHSG 2019, Ini Penyebabnya

Kompas.com - 18/11/2019, 11:54 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). IHSG dibuka pada 6.381,18 naik 22,56 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat lalu. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). IHSG dibuka pada 6.381,18 naik 22,56 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat lalu.
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Hampir seluruh emiten yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan kinerja keuangan selama sembilan bulan di tahun 2019. Beberapa emiten masih memperlihatkan kinerja positif, namun tidak sedikit yang mencatatkan kinerja stagnan dan bahkan ada yang mengalami pertumbuhan negatif sejalan dengan lemahnya pertumbuhan ekonomi domestik akibat kondisi global.

Bahana Sekuritas melihat kinerja keuangan pada 100 perusahaan saham di BEI tercatat memiliki kinerja yang cukup rendah yang terlihat dari perolehan laba bersih yang tercatat negatif sebesar 4,2 persen atau lebih rendah dari proyeksi awal Bahana dengan pertumbuhan emiten positif dikisaran 9 persen.

Pencapaian ini, membuat Bahana memangkas proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) ke level 6.085 dari perkiraan semula di level 6.560.

Baca juga: Ternyata Tak Semua Eselon III-V Akan Dipangkas Jokowi, Ini 3 Kriterianya

"Kami memperkirakan pada kuartal keempat, pertumbuhan laba operasional masih akan tertekan untuk sebagian besar emiten, kecuali untuk emiten sektor rokok, perkebunan dan perbankan," kata Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (18/11/2019).

Namun dengan tren penurunan suku bunga dan rupiah saat ini, mampu membantu laba emiten dari sektor telekomunikasi dan semen, yang mana dua emiten ini bergantung pada penguatan rupiah karena biaya operasionalnya menggunakan mata uang dollar AS.

Anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) memperkirakan laba bersih emiten akan mengalami pertumbuhan sekitar 2 persen sampai 3 persen untuk keseluruhan 2019.

Baca juga: Ini 5 Reksadana Saham dengan Imbal Hasil Tertinggi

Beberapa risiko yang patut dicermati pada sisa tahun ini salah satunya adalah realisasi penerimaan pajak selama 8 bulan pertama 2019, yang masih tercatat sebesar 51 persen dari target APBN 2019 yang ditetapkan sebesar Rp 1.577 triliun.

Hal ini bisa berdampak pada tertundanya belanja pemerintah yang bisa mempengaruhi emiten konstruksi, perbankan dan telekomunikasi yang terkait dengan proyek pemerintah.

Catatan Bahana, kinerja keuangan 100 emiten yang diamati, secara keseluruhan membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 3,6 persen untuk periode Januari sampai September 2019. Ini ditopang oleh sektor perbankan, semen, kesehatan dan obat-obatan. Sedangkan sektor konstruksi, perkebunan dan properti membukukan kinerja negatif.

Selama sembilan bulan pertama tahun ini, marjin laba kotor mencatat rata-rata pertumbuhan sebesar 2,9 persen secara tahunan dengan kinerja dari sektor konsumer terutama kontribusi dari PT Gudang Garam dan PT Indofood CBP.

Baca juga: Terjerat Utang, Bagaimana supaya Lepas dari Jeratnya?

Sedangkan emiten dari sektor perkebunan, konstruksi dan unggas membukukan kinerja negatif. Sedangkan laba operasional hanya tumbuh sebesar 1,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, karena turunnya kinerja emiten dari sektor unggas, perkebunan dan konsumer.

Ke depan, dengan adanya rencana pemerintah untuk memotong pajak penghasilan perusahaan, diperkirakan akan ada potensi pembayaran dividen yang lebih besar dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti dari PT Telekomunikasi Indonesia yang memiliki arus kas yang besar dengan rasio utang terhadap modal yang rendah.

Rekomendasi beli saham Telkom (TLKM) dengan target harga Rp 4.200 per saham. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) dengan tingkat kecukupan modal yang tinggi serta dengan tingkat provisi yang semakin berkurang diperkirakan akan membukukan kinerja positif sampai akhir tahun. BBRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 5.300 per saham, dan BMRI dengan target harga Rp 9.000 per saham.

Baca juga: Ingin Jadi Freelancer? Simak Persiapan yang Harus Dilakukan

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X