KILAS

Gandeng Kementerian PUPR dan Kemhan, Kementan akan Jadikan Kalteng Lumbung Pangan

Kompas.com - 25/06/2020, 19:06 WIB
Ilustrasi sawah SHUTTERSTOCK.com/JET ROCKKKKIlustrasi sawah

KOMPAS.comKementerian Pertanian ( Kementan) menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Pertahanan ( Kemhan) untuk menjadikan Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai lumbung pangan di masa depan.

Kementan berperan sebagai penanggung jawab penuh pada aspek budi daya dari pra hingga pasca panen dalam rangka peningkatan produksi.

Sementara itu, Kementerian PUPR mendukung pembangunan irigasi primer dan sekunder, namun irigasi tersier menjadi tugas Kementan.

Kemudian, Kemhan berperan dalam pengerahan personel TNI untuk membantu percepatan olah tanah, tanam, serapan gabah, dan memiliki fungsi pengawasan yang kuat di lapangan.

Baca juga: Ini Hasil Investigasi Kementan soal Kontaminasi Listeria pada Jamur Enoki asal Korea Selatan

Upaya mewujudkan Kalteng sebagai lumbung pangan sendiri akan diwujudkan dengan mengembangkan food estate di lahan seluas 164.598 hektar (ha) yang mengintegrasikan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan.

“Jadi setiap wilayah harus dipetakan, ada klaster tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan di lahan yang sama,” kata Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2020).

Ia melanjutkan, food estate yang merupakan gagasan Presiden Joko Widodo itu berbeda dengan rice estate yang komoditasnya hanya padi.

Optimalkan lahan yang ada

Pengembangan food estate terdiri dari lahan intensifikasi seluas 85.456 ha dan lahan ekstensifikasi seluas 79.142 ha.

Pengembangan dimulai pada 2020 dengan pengembangan lahan intensifikasi seluas 30.000 ha sbagai model percontohan food estate modern berbasis korporasi petani.

Pengembangan food estate dilakukan dengan mengoptimalkan lahan eks pengembangan lahan gambut (PLG) dan non-eks PLG untuk pangan, bukan membuka kembali lahan PLG itu.

“Lahan ini merupakan rawa yang meliputi rawa pasang surut dan lebak, di mana lahan tersebut mengandung dominan tanah mineral dibanding tanah gambut,” kata Kuntoro.

Baca juga: Kementan Keluarkan Rekomendasi Kegiatan Kurban di Masa Pandemi Covid-19

Ia melanjutkan, gambut yang ada, umumnya dangkal-sedang (kurang dari 1 meter). Dengan pengelolaan lahan secara modern, produktivitas padi bisa mncapai 4-5 ton per ha.

Pengembangan dilakukan di kabupaten Kapuas seluas 20.00 hektar dan di Kabupaten Pulang Pisau seluas 10.000 ribu ha.

"Bagian selatan Pulang Pisau dan Kapuas umumnya lahan pasang surut tipe A atau lahan yang selalu tergenang. Dengan manajemen air yang tepat, lahan ini bisa dioptimalkan dan tidak mengganggu jadwal tanam," ujar Kuntoro.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X