Budidaya Lobster Pakai Kerangkeng Dinilai Lebih Baik ketimbang Keramba Jaring Apung

Kompas.com - 14/07/2020, 15:25 WIB
Kelompok nelayan binaan Pol Airut Polda Aceh membudidaya lobster di kawasan Laut Ulee Lheu, Banda Aceh. Kamis (09/07/2020). Bibit lobster yang dibudidayakan secara alami ini merupakan hasil tangkapan nelayan di perairan laut Aceh yang berukuran dibawah 200 gram yang dibeli dengan harga Rp 130 ribu, kemudian setelah satu bulan dirawat dan  diberi pakan alami lobster ini siap dipanen untuk diekspor dengan harga hingga Rp 700 ribu perkilohramnya. Raja UmarKelompok nelayan binaan Pol Airut Polda Aceh membudidaya lobster di kawasan Laut Ulee Lheu, Banda Aceh. Kamis (09/07/2020). Bibit lobster yang dibudidayakan secara alami ini merupakan hasil tangkapan nelayan di perairan laut Aceh yang berukuran dibawah 200 gram yang dibeli dengan harga Rp 130 ribu, kemudian setelah satu bulan dirawat dan diberi pakan alami lobster ini siap dipanen untuk diekspor dengan harga hingga Rp 700 ribu perkilohramnya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan Laut Indonesia (Hipilindo), Effendy Wong mengatakan, budidaya dengan sistem kerangkeng jauh lebih baik dibanding dengan Keramba Jaring Apung (KJA) berukuran 3×3.

Informasi saja, sistem kerangkeng ini banyak diadopsi oleh Vietnam dalam membudidayakan benih-benih lobster.

Kerangkeng-kerangkeng biasanya ditaruh di kedalaman 7-12 meter di bawah laut sehingga terhindar dari pantulan cahaya yang mampu membuat lobster stres.

Baca juga: Harga Benur Kian Mahal, Tanda Eskpor Benih Lobster Bisa Lemahkan Budidaya

"Yang terbaik adalah sistem kerangkeng pada kedalaman 7-12 meter di dasar laut. Ini saya usul ke depan, pembudidaya melakukannya itu dengan sistem kerangkeng Vietnam. Jaring 3×3 (KJA) itu kurang begitu bagus," kata Effendy dalam diskusi daring, Selasa (14/7/2020).

Effendi menuturkan, budidaya lobster menggunakan sistem kerangkeng membuat tingkat mortalitas lobster rendah, pertumbuhan baik, dan tingkat kanibalismenya turun.

Sementara itu, ada beberapa kelemahan berbudidaya menggunakan sistem keramba jaring apung berukuran 3×3. Biasanya, kondisi lobster jauh lebih rentan dan lemah, mortalitas tinggi, serta kanibalisme tinggi.

"Pakai kerangkeng saja, dibuat tali panjang, diikat rantai, kerangkengnya taruh di bawah (dasar laut). Karena kami perhatikan, suhu di Vietnam dengan Indonesia itu nerbeda. Rata-rata di Vietnam rendah hampir 2 derajat dibanding Indonesia. Biasanya keluhan pembudidaya tradisional itu dari suhu," sebut dia.

Baca juga: Kata Edhy, Larangan Ekspor Benih Lobster Banyak Merugikan Masyarakat

Sejauh ini, kata Effendy, tidak ada kendala yang berarti dalam pembudidayaan lobster di Tanah Air. Namun, dibukanya keran ekspor benur berpotensi melemahkan semangat budidaya.

Meski mendukung nelayan yang bekerja menjadi penangkap benih, namun harga benih lobster jadi tidak ramah kantong untuk para pembudidaya, dari Rp 2.000 - Rp 4.000 menjadi Rp 15.000 - Rp 17.000.

Mahalnya harga benur membuat pembudidaya RI makin tak mampu bersaing dengan pembudidaya Vietnam dari segi harga. Para eksportir ini bersaing menangkap lobster di lapangan tanpa batas, yang membuat harganya jadi menurun di Vietnam karena stok berlimpah.

"Saya lihat ekspor benur tanpa batas, dampaknya membentuk model pemanfaatan benur untuk budidaya terus terang saya agak pesimistis. Dampaknya pembudidaya di Indonesia kembali jadi nelayan tangkap," pungkas dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X