Daur Ulang Galon Plastik Bisa Menggerakkan Perekonomian, Seperti Apa?

Kompas.com - 30/08/2020, 09:11 WIB
Bakal botol dari daur ulang botol bekas jenis Polyethylene Terephthalate (PET) di PT Namasindo Plas, Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/12/2019). Botol plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET) ini didaur ulang kembali menjadi botol kemasan air minum. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOBakal botol dari daur ulang botol bekas jenis Polyethylene Terephthalate (PET) di PT Namasindo Plas, Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/12/2019). Botol plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET) ini didaur ulang kembali menjadi botol kemasan air minum.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kegiatan daur ulang limbah plastik dinilai memberikan dampak positif terhadap perekonomian, tidak hanya lingkungan.

Ahli Teknologi Polimer Fakultas Teknik Universitas Indonesia Mochamad Chalid mengatakan, kegiatan daur ulang produk kemasan plastik yang aman selain bisa menjadi solusi efektif untuk masalah tumpukan limbah plastik, juga bisa menjadi dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan taraf ekonomi masyarakat.

"Daur ulang limbah plastik merupakan solusi efektif dan berdaya guna terhadap masalah tumpukan limbah plastik yang menjadi masalah lingkungan di Indonesia. Solusi ini juga memberikan banyak dampak positif bagi sektor lain, seperti penyerapan tenaga kerja dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat, yang berbasis pada prinsip ekonomi sirkular," kata Chalid dikutip dalam keterangan tertulis, Minggu (30/8/2020).

Baca juga: Pelaku Usaha Makanan dan Minuman Kemasan Ingin Daur Ulang Sampah

Chalid pun menjelaskan, penggunaan kemasan plastik yang aman untuk kemasan pangan dapat diketahui dengan melihat kode daur ulang berupa segitiga panah dengan kode angka di dalamnya. Kode tersebut biasanya tertera di bagian bawah kemasan plastik.

Kode 1 untuk PET atau PETE (polyethylene terephthalate), kode 2 untuk HDPE atau PE-HD (high-density polyethylene), kode 3 untuk PVC atau V (polyvinyl chloride), kode 4 untuk LDPE atau PE-LD (low-density polyethylene), kode 5 untuk PP (polypropylene), kode 6 untuk PS (polystyrene), dan kode 7 untuk OTHER (ada empat jenis plastik yang termasuk dalam kategori ini, yaitu styrene acrylonitrile (SAN), acrylonitrile butadiene styrene (ABS), polycarbonate (PC), dan nylon).

Menurut Chalid, berdasarkan Resin Identification Code (RIC) yang diterbitkan The Society of Plastic Industry (SPI) pada 1988 di Amerika Serikat, jenis plastik yang paling mudah didaur ulang adalah Polyethylene Terephthalate (PET), dengan kode angka 1.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“PET banyak digunakan sebagai bahan baku produk plastik, seperti kemasan botol dan galon air minum. Hal ini dikarenakan PET memiliki beberapa sifat yang unggul, diantaranya berwarna jernih, ringan, mudah dibentuk, tidak mudah pecah, dan mudah di daur ulang,” katanya.

Kestabilan sifat PET, selain membuatnya mudah didaur-ulang, menyebabkan limbah PET dapat dikonversi menjadi beragam produk turunan dan bernilai ekonomi. Hal ini berdampak pada harga limbah produk berbasis PET yang relatif tinggi, sehingga wajar bila limbah plastik ini banyak disukai para pelaku daur ulang, baik dari pemulung maupun industri daur ulang.

Sementara Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) Christine Halim mengatakan, di banyak negara maju, siklus ekonomi daur ulang limbah plastik sudah dianggap sebagai salah satu solusi pengelolaan limbah yang cukup efektif.

"Galon plastik PET mudah sekali didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Penggunaan bahan ini sejalan dengan visi KLHK mengenai peta penanganan sampah melalui pendaurulangan dan pemanfaatan kembali dengan prinsip sirkulasi ekonomi," katanya.

Model ekonomi sirkulasi, menurutnya, bertujuan untuk memperpanjang masa pakai sampah menjadi sesuatu yang berdaya guna untuk dimanfaatkan kembali. Juga sebagai alternatif bahan baku atau didaur ulang menjadi produk baru, sehingga dapat menghemat biaya produksi atau menjadi produk baru yang laku jual.

Christine menyebutkan, dari total plastik daur ulang oleh anggotanya, sebanyak 70 persen diekspor.

“Selain harga lebih kompetitif, apresiasi pasar di luar negeri juga lebih besar ketimbang market domestik. Barang-barang produk daur ulang kami diekspor ke Eropa dengan harga yang lebih mahal 50 persen. Kalau domestik hanya 800 dollar AS per metrik ton diekspor bisa 1.200 dollar AS per metrik ton," jelasnya.

Baca juga: Daur Ulang Sampah Bisa Serap 3,3 Juta Pekerja Informal



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X