Kompas.com - 09/02/2021, 17:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) berhasil mencetak keuntungan sepanjang tahun lalu, meskipun sektor usaha minyak dan gas (migas) terdampak signifikan oleh pandemi Covid-19.

Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini mengatakan, berdasarkan hasil kinerja keuangan yang saat ini masih diaudit, perseroan berhasil membukukan laba sebesar 1 miliar dollar AS atau setara Rp 14 triliun (asumsi kurs Rp 14.000 per dollar AS).

Padahal, pada paruh pertama tahun 2020, Pertamina tercatat masih mengalami kerugian sebesar 767,92 juta dollar AS, diakibatkan oleh triple shock pandemi, yakni penurunan penjualan, anjloknya harga minyak mentah, dan tidak stabilnya kurs rupiah.

Baca juga: Subsidi Gaji Tak Dilanjutkan Tahun Ini, Diganti Bantuan Rp 3,5 Juta

"(Pertamina) bisa membukukan laba di tengah situasi pandemi Covid, kalau kita lihat benchmark IOC (international oil companies) lain, dimana BP membukukan rugi Rp 8 triliun, Exxon juga demikian ratusan triliun, Alhamdulillah kami dengan berbagai upaya sudah bisa menekan kerugian, dan bahkan bisa membukukan positif di akhir tahun 2020," tutur Emma dalam rapat dengar pendapat Komisi VII DPR RI, Selasa (9/2/2021).

Lebih lanjut, Emma membeberkan berbagai strategi yang dilakukan perseroan, sehingga bisa menorehkan catatan keuangan positif sepanjang tahun 2020. Langkah utama yang dilakukan perseroan ialah pemangkasan biaya operasional.

"Sehingga kita bisa membukukan positif di bottom line," katanya.

Kemudian, perusahaan migas pelat merah itu juga menentukan kembali skala prioritas langkah investasi. Ini pun berimbas dengan penghematan biaya investasi atau capex perseroan, yang semula ditarget mencapai 6,4 miliar dollar AS, namun realisasinya hanya mencapai 4,7 miliar dollar AS.

"Ada beberapa yang memang kita prioritas ulang dan ada beberapa memang yang tidak terealisasi karena pandemi Covid," ujarnya.

Baca juga: Mengintip Tren Bisnis Makanan serta Barang dan Jasa yang Akan Menggeliat di 2021

Meskipun pada paruh pertama 2020 penjualan BBM sempat anjlok, Emma menyebutkan, pada kuartal akhir tahun lalu terjadi peningkatan signifikan, yang kemudian dapat menahan penurunan rata-rata penjualan secara tahunan.

Lebih lanjut Emma menyebutkan, pendapatan perseroan juga disumbangkan oleh adanya pengakuan marketing fee (penjualan minyak mentah dan LNG), yang merupakan hasil dari koordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Strategi lain yang dilakukan oleh Pertamina ialah menentukan pembelian minyak mentah pada saat harga globa tengah berada di titik terendah.

Terakhir Pertamina juga melakukan mitigasi terhadap aset-aset di sektor hulu.

"Mudah-mudahan masih ada tambahan (laba) lagi, karena audit belum selesai," ucap Emma.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.