Karyawan Kontrak Wajib Dapat Kompensasi, Begini Cara Hitungnya

Kompas.com - 06/04/2021, 17:45 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Karyawan kontrak atau pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) berhak atas uang kompensasi yang wajib diberikan oleh pengusaha atau pemberi kerja.

Hal itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja.

"Pengusaha wajib memberikan uang kompensasi kepada Pekerja/Buruh yang hubungan kerjanya berdasarkan PKWT," tulis ayat (1) pasal 15 aturan tersebut seperti dikutip Kompas.com, Selasa (6/4/2021).

Baca juga: Ramai soal Karyawan Kontrak Wajib Dapat Kompensasi, Bagaimana Caranya?

Di ayat berikutnya dijelaskan, pemberian uang kompensasi dilaksanakan saat berakhirnya PKWT.

Uang kompensasi tersebut pun diberikan bila masa pekerja karyawan kontrak yang bersangkutan minimal satu bulan.

"Uang kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Pekerja/Buruh yang telah mempunyai masa kerja paling sedikit 1 (satu) bulan
secara terus menerus," jelas beleid tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bila status PKWT diperpanjang, maka uang konpensasi akan diberikan saat selesai jangka waktu PKWT sebelum perpanjangan.

Selanjutnya, uang kompensasi berikutnya akan diberikan setelah perpanjangan jangkwa waktu PKWT berakhir atau selesai.

Baca juga: Ini Skema Karyawan Tetap dan Karyawan Kontrak di UU Cipta Kerja

Untuk diketahui, PP tersebut juga mengatur masa perpanjangan waktu kerja untuk PKWT tidak boleh lebih dari lima tahun.

Namun demikian, uang kompensasi untuk karyawan kontrak ini tidak berlaku bagi tenaga asing.

Adapun berikut cara menghitung kompensasi karyawan kontrak atau PKWT:

a. PKWT dengan masa kerja selama 12 bulan secara terus menerus akan mendapatkan kompensasi senilai satu bulan upah.

b. PKWT dengan masa kerja satu bulan atau lebih tetapi kurang dari 12 hulan, maka nilai kompensasi yang didapatkan akan dihitung secara proporsional dengan perhitungan masa kerja dibagi 12 bulan dikali satu bulan upah.

Dengan demikian, bila seseorang bekerja dengan kontrak selama lima bulan, maka perhitungannya 5/12 x 1 bulan upah.

c. PKWT dengan masa kerja lebih dari 12 bulan nilai kompensasi yang didapatkan juga dihitung secara proporsional sesuai dengan kontrak kerjanya.

Baca juga: Perbedaan PKWT dan PKWTT Serta Perubahannya di UU Cipta Kerja

Misal, bila seseorang bekerja selama 1,5 tahun, maka perhitungannya 18/12 x 1 bulan upah.

Bagaimana bila salah satu pihak mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhirnya masa kontrak atau yang sudah ditetapkan dalam PKWT?

Di dalam aturan tersebut dijelaskan, pengusaha tetap diwajibkan memberikan uang kompensasi yang besarannya dihitung berdasarkan jangka waktu PKWT yang telah dilaksanakan oleh pekerja atau buruh yang bersangkutan.

Adapun upah yang menjadi dasar perhitungan kompensasi PKWT terdiri atas upah pokok dan tunjangan tetap.

Bila perusahaan tidak menggunakan komponen upah pokok dan tunjangan tetap maka dasar perhtingan pembayaran uang kompensasi yakni upah tanpa tunjangan.

"Dalam hal upah di perusahaan terdiri atas upah pokok dan tunjangan tidak tetap maka dasar perhitungan uang kompensasi yaitu upah pokok," jelas aturan tersebut.

Baca juga: Ini Keuntungan Jadi Karyawan Kontrak di UU Cipta Kerja

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Susunan Direksi dan Komisaris PLN Terbaru

Ini Susunan Direksi dan Komisaris PLN Terbaru

Whats New
Masuk Daftar Obligor dan Debitor, Grup Texmaco: Kami Tidak Pernah Dapat BLBI

Masuk Daftar Obligor dan Debitor, Grup Texmaco: Kami Tidak Pernah Dapat BLBI

Rilis
'Tax Amnesty Jilid II' Dimulai 1 Januari 2022, Bagaimana Kesiapan Sistem IT-nya?

"Tax Amnesty Jilid II" Dimulai 1 Januari 2022, Bagaimana Kesiapan Sistem IT-nya?

Whats New
Rupiah dan IHSG Menguat di Sesi I, Asing Borong BBRI, BBCA, dan BBNI

Rupiah dan IHSG Menguat di Sesi I, Asing Borong BBRI, BBCA, dan BBNI

Whats New
Setelah Angkat Dirut Baru, Erick Thohir Rombak Jajaran Direksi PLN

Setelah Angkat Dirut Baru, Erick Thohir Rombak Jajaran Direksi PLN

Whats New
Menko Airlangga: Kemunculan Varian Omicron Bukti Akses Vaksin di Dunia Tak Merata

Menko Airlangga: Kemunculan Varian Omicron Bukti Akses Vaksin di Dunia Tak Merata

Whats New
Sempat Turun, Cadangan Devisa RI Kembali Meningkat Jadi 145,9 Miliar Dollar AS

Sempat Turun, Cadangan Devisa RI Kembali Meningkat Jadi 145,9 Miliar Dollar AS

Rilis
Jadi Presidensi, Ini 3 Fokus Utama RI di KTT G20 Tahun Depan

Jadi Presidensi, Ini 3 Fokus Utama RI di KTT G20 Tahun Depan

Whats New
Gandeng Standard Chartered, Prudential Indonesia Luncurkan 2 Dana Investasi Baru

Gandeng Standard Chartered, Prudential Indonesia Luncurkan 2 Dana Investasi Baru

Whats New
Rangkaian KTT G20 Dimulai Hari Ini, Indonesia Bahas 3 Isu Utama

Rangkaian KTT G20 Dimulai Hari Ini, Indonesia Bahas 3 Isu Utama

Whats New
Soal Pajak Karbon, Anak Buah Sri Mulyani Sebut AS Malu dengan Indonesia...

Soal Pajak Karbon, Anak Buah Sri Mulyani Sebut AS Malu dengan Indonesia...

Whats New
Ini Alasan BEI Tak Suspensi Saham BUKA meski Harga Saham Terus Turun

Ini Alasan BEI Tak Suspensi Saham BUKA meski Harga Saham Terus Turun

Whats New
PPKM Level 3 Serentak Batal, Bagaimana Nasib Ganjil-Genap di Tol 20 Desember-2 Januari di Tol?

PPKM Level 3 Serentak Batal, Bagaimana Nasib Ganjil-Genap di Tol 20 Desember-2 Januari di Tol?

Whats New
Mau Beli Valas? Simak Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Mau Beli Valas? Simak Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Whats New
Naik Rp 1.000 per Gram, Ini Rincian Harga Emas Antam Terbaru

Naik Rp 1.000 per Gram, Ini Rincian Harga Emas Antam Terbaru

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.