Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Heboh soal Kualifikasi Lowker KAI Dianggap Sulit, Berapa Potensi Gajinya?

Kompas.com - 23/04/2024, 14:20 WIB
Isna Rifka Sri Rahayu,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kualifikasi lowongan kerja (lowker) PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk program management trainee (MT) dinilai masyarakat terlalu tinggi. Namun, karyawan yang direkrut rupanya berpeluang mendapatkan gaji yang tinggi.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu viral di media sosial mengenai kualifikasi rekrutmen MT PT KAI karena mematok syarat IPK 3,5 dan skor TOEFL 500.

EVP Corporate Secretary KAI Raden Agus Dwinanto Budiadji mengatakan, KAI menetapkan kualifikasi rekrutmen seperti itu karena membutuhkan tenaga kerja profesional di bidang perkeretaapian.

Baca juga: Tanggung Utang Proyek Kereta Cepat Whoosh, KAI Minta Bantuan Pemerintah

KAI menilai tenaga kerja yang ahli di bidang perkeretaapian di Indonesia sangat kurang jika dibandingkan negara lain, seperti China dan Jepang.

Sementara itu, teknologi di bidang ini terus berkembang mulai dari KRL, MRT, LRT, hingga kereta cepat, sehingga tenaga kerja khususnya di bidang operator dituntut untuk bisa mengimbangi perkembangan tersebut.

"Kita ingin mendesain future leadership, tenaga profesional ke depan yang bergerak di bidang perkeretaapian, khususnya operator kereta api. Karena kita masih sangat kurang sekali tenaga ahli profesional di sini dibanding negara-negara lain," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Senin (22/4/2024).

Baca juga: Studi Kelayakan Kereta Cepat ke Surabaya Digarap China, KAI: Kita Enggak Ikut

Selain itu, berdasarkan database KAI, selama dua tahun terakhir sebanyak 40 persen pelamar kerja yang masuk merupakan lulusan universitas dengan IPK 3,5.

"Artinya shifting ke requirement khusus yang nantinya kita siapkan di MT ini saya pikir masih proper-lah," kata Agus.

Potensi gaji

Lagi pula, para pekerja yang masuk melalui seleksi MT ini akan diberikan pelatihan terlebih dahulu sebelum kemudian menduduki posisi-posisi yang sesuai dengan yang dibutuhkan.

Baca juga: KAI Layani 4,39 Juta Penumpang Selama Lebaran 2024, Lebih Sedikit dari Perkiraan Kemenhub?

Kemudian, pekerja dari jalur seleksi MT ini bisa naik jabatan sampai ke level manajerial tergantung kinerja masing-masing.

Agus bilang, pada level manajerial, pekerja KAI bisa mendapatkan gaji sebesar Rp 25 juta-Rp 35 juta per bulan. Pekerja dengan rekrutmen MT ini tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa naik ke level tersebut.

"Kalau untuk level Manager aja range-nya itu di sekitar Rp 25 juta-Rp 36 juta. Tapi enggak lamalah, biasanya kalau MT itu antara 3-5 tahun. Tergantung career path dan KPI juga menentukan sekali," ucapnya.

Baca juga: Bus Tertabrak KA Rajabasa, KAI: Sopir Tidak Indahkan Peringatan

Agus menambahkan, masyarakat yang berminat bergabung dengan KAI tetapi tidak memenuhi kualifikasi seleksi MT tersebut dapat menunggu pembukaan rekrutmen reguler.

Setidaknya ada 600-800 pekerja yang akan diambil dari seleksi rekrutmen reguler KAI tersebut.

"Kalau general nanti kita akan mengadakan lagi sekitar tahun-tahun ini, mungkin kita akan buka sekitar 600-800 itu masih membutuhkan segitu," tuturnya.

Baca juga: KAI Tebar Diskon Tiket, Ini Daftar 15 Kereta dan Rutenya

Halaman:


Terkini Lainnya

Tidak Ada 'Black Box', KNKT Investigasi Badan Pesawat yang Jatuh di BSD

Tidak Ada "Black Box", KNKT Investigasi Badan Pesawat yang Jatuh di BSD

Whats New
Investasi Rp 10 Miliar, Emiten Perhotelan KDTN Siap Ekspansi Bisnis Hotel Rest Area

Investasi Rp 10 Miliar, Emiten Perhotelan KDTN Siap Ekspansi Bisnis Hotel Rest Area

Whats New
Gandeng Binawan, RSUP dr Kariadi Tingkatkan Keterampilan Kerja Tenaga Kesehatan

Gandeng Binawan, RSUP dr Kariadi Tingkatkan Keterampilan Kerja Tenaga Kesehatan

Whats New
Stok Beras Pemerintah Capai 1,85 Juta Ton

Stok Beras Pemerintah Capai 1,85 Juta Ton

Whats New
Luncurkan Starlink di Indonesia, Elon Musk Sebut Ada Kemungkinan Investasi Lainnya

Luncurkan Starlink di Indonesia, Elon Musk Sebut Ada Kemungkinan Investasi Lainnya

Whats New
Lahan Kering di RI Besar, Berpotensi Jadi Hutan Tanaman Energi Penghasil Biomassa

Lahan Kering di RI Besar, Berpotensi Jadi Hutan Tanaman Energi Penghasil Biomassa

Whats New
Riset IOH dan Twimbit Soroti Potensi Pertumbuhan Ekonomi RI Lewat Teknologi AI

Riset IOH dan Twimbit Soroti Potensi Pertumbuhan Ekonomi RI Lewat Teknologi AI

Whats New
Cara Cek Penerima Bansos 2024 di DTKS Kemensos

Cara Cek Penerima Bansos 2024 di DTKS Kemensos

Whats New
IHSG Melemah 50,5 Poin, Rupiah Turun ke Level Rp 15.978

IHSG Melemah 50,5 Poin, Rupiah Turun ke Level Rp 15.978

Whats New
Dari Hulu ke Hilir, Begini Upaya HM Sampoerna Kembangkan SDM di Indonesia

Dari Hulu ke Hilir, Begini Upaya HM Sampoerna Kembangkan SDM di Indonesia

Whats New
Disebut Jadi Penyebab Kontainer Tertahan di Pelabuhan, Ini Penjelasan Kemenperin

Disebut Jadi Penyebab Kontainer Tertahan di Pelabuhan, Ini Penjelasan Kemenperin

Whats New
Perbankan Antisipasi Kenaikan Kredit Macet Imbas Pencabutan Relaksasi Restrukturisasi Covid-19

Perbankan Antisipasi Kenaikan Kredit Macet Imbas Pencabutan Relaksasi Restrukturisasi Covid-19

Whats New
KKP Tangkap Kapal Ikan Berbendera Rusia di Laut Arafura

KKP Tangkap Kapal Ikan Berbendera Rusia di Laut Arafura

Whats New
Defisit APBN Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran Dipatok 2,45 Persen-2,58 Persen

Defisit APBN Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran Dipatok 2,45 Persen-2,58 Persen

Whats New
Bos Bulog Sebut Hanya Sedikit Petani yang Manfaatkan Jemput Gabah Beras, Ini Sebabnya

Bos Bulog Sebut Hanya Sedikit Petani yang Manfaatkan Jemput Gabah Beras, Ini Sebabnya

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com