KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Mengapa Soft Skills Wajib Dimiliki di Era Teknologi?

Kompas.com - 10/04/2021, 08:02 WIB
Ilustrasi soft skills. Dok. ShutterstockIlustrasi soft skills.

BANYAK orang menganggap bahwa pekerjaan dalam dunia dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang tidak lagi membutuhkan keterampilan-keterampilan, seperti komunikasi, negosiasi, membina hubungan interpersonal, dan pemahaman emotional intelligence.

Namun, kenyataan justru berkata lain. Menurut pemimpin sebuah perusahaan teknologi informasi (TI) yang menjual perangkat lunak, soft skills menjadi penting karena “knowing how to code will only get you so far”. Oleh karena itu, ia menuntut agar para supervisor dan manajer meningkatkan keterampilan kepemimpinan dan soft skills.

Seorang pakar TI, Sascha Giese, juga menekankan pentingnya soft skills pada para pekerja TI. Dengan perkembangan sektor TI di semua lingkungan kerja, keterampilan-keterampilan teknis memang terasa semakin dibutuhkan orang.

Pengetahuan dan keterampilan yang spesifik semakin dicari. Hal ini membuat para profesional yang bergerak di bidang TI merasa sangat dibutuhkan di lingkungan kerja.

Meski demikian, ketika masa kerja semakin lama dan tanggung jawab semakin membesar, para profesional tersebut merasa bahwa keterampilan holistis dan nonteknikal ternyata juga semakin penting.

Mau tidak mau, cepat atau lambat, para profesional teknik itu harus menghadapi publik. Mereka tidak mungkin hanya bersembunyi di balik layar komputer. Mereka tentu perlu memahami sasaran organisasi, beradaptasi, dan berkreasi sambil tetap mengembangkan kapabilitas teknisnya. Soft skills aren’t optional—they’re essential.

Eileen Rachman.Dok. EXPERD Eileen Rachman.
Oleh karena itu, kita perlu berpikir bagaimana menjadi a well-rounded professional. Sebab, tidak ada eksekutif yang sukses tanpa memiliki keterampilan soft skills yang kuat.

Bila hanya berfokus pada kemampuan teknis, kesuksesan akan terasa pincang. Mungkin kita pernah mendengar adanya pemimpin yang sangat cerdas, bahkan jenius, tetapi tidak berhasil membina organisasi dan para suksesornya dengan baik. Hal ini dikarenakan kemampuan soft skills-nya tidak berkembang.

Bisa jadi ia sukses menjadi seorang kontributor pada organisasinya, tetapi timnya tidak senang bekerja di bawah kepemimpinannya. Pada akhirnya, hal ini berdampak pada kontribusi mereka dan performa organisasi. Untuk itu, ia memerlukan soft skills yang sering dipandang enteng. Ingat, soft skills aren't soft!

Tidak hanya dalam organisasi, seorang profesional pun bakal kesulitan bila tidak punya bekal soft skills. Sebagai contoh, seorang dokter. Ia tidak akan disukai pasien bila tidak punya kemampuan berkomunikasi yang merupakan salah satu bentuk soft skills. Ia juga akan kesusahan mendapatkan pengetahuan tambahan dari kolega sejawat.

Perihal pentingnya soft skills dibuktikan dalam riset yang diadakan oleh para perekrut. Dari hasil riset itu, 94 persen responden percaya bahwa seorang profesional yang dilengkapi dengan soft skills memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk dipromosikan sebagai pemimpin dibandingkan profesional yang hanya memiliki keterampilan teknis.

Terkait pengembangan, baik keterampilan teknis maupun soft skills punya karakter yang berbeda. Keterampilan teknis perlu diperbarui dari waktu ke waktu. Sementara, soft skills semakin hari akan semakin kental, hidup terus, serta bisa diasah sesuai kebutuhan dan tingkat tanggung jawabnya.

Menjadi atasan

Ketika seorang programmer ditunjuk untuk memimpin timnya, ia baru sadar, tugas ini tidak sama dengan tugas-tugas terdahulunya. Memenuhi target melalui rekan-rekannya ternyata bergantung pada banyak hal di luar teknis.

Tiba-tiba, ia harus menjaga motivasi timnya, berkomunikasi secara intensif, serta menjaga engagement kelompok dan inovasi setiap individu dalam timnya. Ia juga baru menyadari bahwa situasi emosional memang harus bisa dikuasai.

Belum lagi, ia harus mempresentasikan hasil kerja tim kepada manajemen dan pelanggan. Ia juga harus dapat menilai manusia yang begitu kompleks ketika merekrut anggota baru untuk timnya.

Agar bisa sukses menjadi pemimpin, seorang manajer harus memiliki kapasitas komunikasi yang kuat. Dengan demikian, ia tahu apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya.

Becoming the best self

Terkadang, kita berasumsi bahwa kepemimpinan itu erat hubungannya dengan tim, anak buah, dan followers. Padahal, seorang kontributor individual pun membutuhkan keterampilan kepemimpinan. Seorang profesional yang memiliki kapasitas empati, inteligensi emosi, dan komunikasi pasti akan bernilai tinggi, meskipun ia bukan seorang manajer.

Untuk bisa menjadi seorang profesional yang komplet, situs tenaga kerja terbesar, LinkedIn, membeberkan delapan soft skills penting yang harus dimiliki oleh seseorang.

Pertama, kreativitas. Kemampuan ini penting untuk menciptakan dan membawa ide-ide segar ke dalam organisasi.

Kedua, persuasi. Agar bisa memengaruhi seseorang, kemampuan persuasi yang sangat halus diperlukan. Pasalnya, manusia tidak suka dipengaruhi meski mereka senang membeli.

Ketiga, kolaborasi. Kemampuan ini berguna untuk membawa tim ke dalam hubungan yang lebih kohesif. Dinamika tim yang beraneka warna membutuhkan keterampilan komunikasi yang sangat kuat.

Keempat, adaptabilitas. Pada abad ke-21, kita membutuhkan kemampuan adaptabilitas. Sebab, kita akan mengalami perubahan berkecepatan tinggi yang membuat kita tidak bisa melihat masa depan dengan jelas. Untuk itu, kita dituntut bergerak cepat di atas perubahan. Agar bisa melakukannya, kita membutuhkan keberanian, observasi yang jeli, dan kemampuan berubah secepat kilat.

Kelima, inteligensi emosi (EQ). Kemampuan ini terkait dengan kapasitas menjaga awareness, mengontrol dan mengekspresikan emosi dengan tepat, serta mengelola hubungan interpersonal secara luwes dan empatetik. Sekarang, inteligensi emosi lebih penting daripada inteligensi intelektual (IQ).

Keenam, motivasi diri. Banyak hal mungkin tidak sesuai dengan harapan kita. Di sinilah letak tantangan untuk tetap bersemangat dan dapat menaklukkan tantangan tersebut. Kita perlu belajar mengatur energi, resilience, dan komitmen kita, di samping juga mengatur pola hidup sehat.

Ketujuh, manajemen waktu. Kinerja yang prima sangat berkorelasi dengan cara seseorang memanfaatkan waktu. Orang yang sukses akan melakukan perencanaan, prioritas pekerjaan, dan mengatur energinya dengan berbeda.

Terakhir, storytelling. Dengan kekuatan bercerita, orang dapat "menggoyang" orang lain untuk bertindak. Dengan bercerita, kita dapat masuk ke dalam pemikiran pendengar dan menggerakkan hatinya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya