Kompas.com - 03/07/2021, 10:07 WIB
Kerajinan keranjang bahan gedebok pisang yang akan diekspor milik Wisnu Widodo di rumah Produksi di Ngestirejo, Tanjungsari, Gunungkidul Senin (4/1/2021) KOMPAS.COM/MARKUS YUWONOKerajinan keranjang bahan gedebok pisang yang akan diekspor milik Wisnu Widodo di rumah Produksi di Ngestirejo, Tanjungsari, Gunungkidul Senin (4/1/2021)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia telah memberikan dampak yang sangat besar bagi hampir seluruh sektor.

Namun sebenarnya ada peluang bagi para pengusaha untuk tetap melakukan ekspor di tengah pandemi.

Salah satu produsen handycraft yang sudah melakukan ekspor ke mancanegara sekaligus menjadi salah satu alumni Export Coaching Program PPEI Josephine J Onie mengatakan, kunci dari berhasilnya ekspor di tengah pandemi adalah tidak pesimis.

Baca juga: Ini Strategi yang Bisa Dipakai para UMKM Home Decor Jika Ingin Tembus Pasar Ekspor

Sebab menurut dia, di masa pandemi semua orang bisa mendengar namun tidak bisa membaca peluang.

"Sudah keburu pesimis, jadi tidak bisa membaca peluang lagi. Padahal pandemi sekarang adalah kesempatan terbaik kita untuk membuka komunikasi baru apalagi didorong dengan adanya industri 4.0, gampang nyari informasi,"ujarnya dalam obrolan Kiat Menembus Pasar Ekspor di Masa Pandemi Covid-19 yang disiarkan oleh PPEI Kemendag, dikutip Kompas.com, Sabtu (3/7/2021).

Dia memberikan tips, bagi pengusaha yang ingin terjun menjadi eksportir, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pertama adalah internal perusahaan. Dalam hal ini, internal perusahaan yang harus diperhatikan adalah kapasitas produksi, mutu, kualitas, dana, legalitas hingga akses pasar.

"Produk yang kita ekspor tidak semua bisa masuk ke negara tujuan. Oleh sebab itu lihat produk apa yang dibutuhkan negara tujuan ekspor kita," jelasnya.

Kedua adalah melakukan Swot Analisis yang terdiri dari Strength (kekuatan), Weaknes (kelemahan), Oppourtunities (peluang), Threath (ancaman).

Lalu yang ketiga adalah memperhatikan kerjasama, baik itu kerjasama dengan pengiriman atau sejenisnya.

Baca juga: Ekspor Benih Lobster Dilarang, Ini Prosedur Barunya

 

"Kerjasama ke shipping itu diperhatikan apakah pengiriman lewat udara, darat hingga laut,"ucapnya.

Selain itu lanjut dia, diperhatikan juga save contract atau regulasi. Sebab menurut dia, setiap negara memiliki regulasi yang berbeda-beda. "Apakah regulasi di negara A butuh SKA atau Certificate of Origin (COO), atau tidak. Kalau butuh yah harus dipersiapkan. Itu perlu dipelajari,"ucap dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.