Soal Transisi Energi, Jokowi: Tarif Listrik Naik? Mau Mereka Nombokin Ini?

Kompas.com - 22/11/2021, 20:54 WIB
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo memberi paparan secara virtuaql dari Istana Negara saat Kompas 100 CEO Forum Ke-12 bertema Ekonomi Sehat 2022 di Jakarta, Kamis (18/11/2021). KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOPresiden Republik Indonesia Joko Widodo memberi paparan secara virtuaql dari Istana Negara saat Kompas 100 CEO Forum Ke-12 bertema Ekonomi Sehat 2022 di Jakarta, Kamis (18/11/2021).


JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) buka suara terkait transisi menuju energi baru terbarukan (EBT) yang akan berdampak pada kenaikan tarif listrik di Indonesia.

Jokowi menyebut, harga listrik ramah lingkungan jauh lebih mahal dibandingkan listrik dari fosil batu bara. Hal ini disampaikan di sela membuka acara the 10th Indonesia EBTKE ConEx 2021, Senin (22/11/2021).

“Pada saat kita di G20 maupun di COP26 Glasgow, kita hanya berkutat berbicara mengenai bagaimana skenario global untuk masuk ke transisi energi,” kata Jokowi.

Baca juga: Jokowi ke PM Inggris soal EBT: Kalau Hanya Ngomong Saja, Saya Juga Bisa

“Tahun lalu sebetulnya sudah masuk ke tema ini, tetapi juga belum ketemu jurusnya seperti apa, scheme-nya seperti apa. Tahun ini lagi, dibicarakan lagi dan scheme-nya juga belum ketemu,” sambungnya.

Jokowi mengungkapkan, sebenarnya potensi EBT di Indonesia sangat besar. Kendati demikian, Jokowi tak ingin menutup mata bahwa bisnis listrik dari fosil batu bara di Indonesia sudah lama berjalan.

“Kita harus ingat dan para pemimpin dunia juga saya sampaikan. Tapi kita ini sudah lama dan sudah tanda tangan kontrak, PLTU-nya sudah berjalan, memakai yang namanya batu bara,” tandasnya.

Karena itu, Jokowi melontarkan sederet pertanyaan mengenai dampak transisi energi terhadap harga listrik yang bakal di jual ke konsumen Indonesia nantinya.

“Pertanyaannya, skenarionya seperti apa? Misalnya, ini misalnya, pendanaan datang, investasi datang, kan harganya tetap lebih mahal dari batu bara. Siapa yang membayar gapnya ini? Siapa? Ini yang belum ketemu. Negara? Kita? Enggak mungkin. Angkanya berapa ratus triliun? Enggak mungkin,” bebernya.

Baca juga: Jokowi Masih Cari Skema Transisi Energi agar Tarif Listrik Tidak Naik

“Atau dibebankan masyarakat? Tarif listrik naik? Juga tidak mungkin. Ramai nanti, gegeran kalau terjadi seperti itu, kan kenaikannya sangat tinggi sekali. Wong naik hanya 10 persen-15 persen saja demonya tiga bulan. Ini naik dua kali. Enggak mungkin. Pertanyaannya, skenarionya seperti apa sekarang kita?” lanjutnya.

Terkait hal ini, Jokowi memberi tugas kepada Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir untuk melakukan perhitungan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.