Jinakkan Inflasi, The Fed Menaikkan Suku Bunga 0,75 Persen pada Juni 2022

Kompas.com - 16/06/2022, 07:57 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Bank sentral AS, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) pada Rabu (15/6/2022) waktu setempat. Kenaikkan suku bunga itu menjadi yang terbesar sejak 1994.

Dikutip dari Nikkei Asia, Kamis (16/6/2022), kenaikkan suku bunga merupakan langkah terbaru The Fed untuk meredam inflasi terburuk yang dihadapi AS selama 40 tahun terakhir.

Ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan, The Fed bertujuan mengembalikan tingkat inflasi sebesar 2 persen dari 8 persen lebih yang terjadi saat ini.

Baca juga: The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan 75 Basis Poin, Tertinggi dalam 28 Tahun

"Rekan-rekan saya dan saya sangat sadar, inflasi yang tinggi menimbulkan kesulitan yang signifikan, terutama pada mereka yang paling tidak mampu memenuhi biaya kebutuhan pokok yang lebih tinggi, seperti makanan, perumahan, dan transportasi," kata Powell dalam konferensi pers usai pertemuan FOMC.

Kenaikkan suku bunga sebesar 0,75 persen menyusul pengumuman kenaikan indeks harga konsumen (CPI) sebesar 8,6 persen pada Mei 2022. Setelah kenaikan 0,75 persen, suku bunga The Fed saat ini bergerak di sekitar 1,5 persen - 1,75 persen.

Tak dipungkiri, keputusan The Fed sedikit banyak berpengaruh ke negara berkembang. Nilai tukar sebagian besar mata uang Asia akan melemah, termasuk Yen. Mata uang Jepang ini tercatat berada pada level terendah dalam 20 tahun terakhir.

Baca juga: IHSG Diprediksi Melemah Hari Ini, Simak Rekomendasi Sahamnya

Pengetatan suku bunga oleh The Fed juga diperkirakan akan meningkatkan beban utang negara-negara berkembang, seperti Pakistan, yang sudah berjuang untuk membayar utang dan mengalihkan modal dari ekonomi.

The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga Lagi

Usai The Fed menaikkan suku bunga 75 bps, Powell bakal menaikkan lagi suku bunga sebesar 50-75 bps pada pertemuan bulan Juli 2022.

Baca juga: The Fed Agresif Naikkan Suku Bunga Acuan, Respons Pasar, dan Dampaknya bagi Indonesia

Namun dia berulang kali menegaskan, bank sentral akan melihat tingkat inflasi dalam menaikkan suku bunga. Dia mengaku bakal gesit menanggapi prospek ekonomi yang berkembang, termasuk peningkatan indeks harga konsumen/CPI.

"Kejutan lebih lanjut bisa saja terjadi. Oleh karena itu, kami harus gesit dalam menanggapi data yang masuk dan prospek yang berkembang. Dan kami akan berusaha tidak menambah ketidakpastian pada waktu yang luar biasa menantang dan tidak pasti," tutur Powell.

Memang, inflasi telah menjadi tantangan politik terbesar bagi Presiden AS Joe Biden saat negara itu mendekati pemilihan paruh waktu pada November. Jajak pendapat ABC News/Ipsos baru-baru ini menemukan, hanya 28 persen pemilih yang menyatakan penanganan inflasi oleh Biden sudah baik.

Baca juga: Kurangi Ketergantungan Dollar AS, Pengusaha Diminta Manfaatkan LCS

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.