Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ibrahim Kholilul Rohman
Senior Research Associate IFG Progress

Senior Research Associate IFG Progress

Disrupsi Rantai Suplai Global, Proposal Solusi dan Peran Presidensi G20 Indonesia

Kompas.com - 30/07/2022, 07:07 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Ibrahim Kholilul Rohman dan Rizky Rizaldi Ronaldo

KUARTAL pertama tahun 2022 (Q12022) ini dapat dikatakan sebagai tahun terbaik bagi perusahaan shipping line, termasuk shipping line domestik. Bagaimana tidak, perusahaan-perusahaan shipping line berhasil mencatatkan performa yang sangat baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sebagai contoh, perusahaan shipping line domestik seperti PT. Samudera Indonesia Tbk (SMDR) dan PT. Temas Tbk (TMAS) memperoleh net income tertingginya pada Q12022, suatu keberhasilan yang cukup membanggakan di tengah isu perlambatan ekonomi.

Pada Q12022, PT. Samudera Indonesia Tbk dan PT. Temas Tbk berhasil mencatatkan net income masing-masing sebesar Rp 837,6 miliar dan Rp 341,3 miliar. Kedua angka ini sangat jauh berbanding terbalik jika dibandingkan periode pre-Covid atau pada Q12019 di mana kedua perusahaan tersebut mencatatkan masing-masing net income sebesar Rp 3,6 Miliar dan Rp 42,3 Miliar. Secara pertumbuhan, kedua perusahaan ini mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 231 kali lipat dan 7 kali lipat dibandingkan periode pre-Covid.

Akan tetapi, di balik performa terbaik berbagai perusahaan shipping line, terdapat konsekuensi yang sangat dirasakan oleh berbagai negara, khususnya negara-negara berkembang seperti Indonesia. Peningkatan net income yang dirasakan oleh industri shipping line disebabkan oleh peningkatan freight rates akibat fenomena blank sailing, bukan berasal dari peningkatan kegiatan perdagangan.

Fenomena blank sailing adalah fenomena dimana perusahaan shipping line memutuskan untuk melewatkan salah satu atau sebagian dari destinasi armadanya. Aktivitas blank sailing dapat dipicu oleh berbagai macam hal, salah satunya adalah peningkatan permintaan yang sangat tinggi pada satu rute destinasi dibandingkan dengan rute destinasi lainnya.

Alhasil, perusahaan shipping melakukan adaptasi dengan mengalihkan armadanya menuju rute dengan permintaan tertinggi. Hal ini berdampak pada shortage armada, mendorong freight rates menjulang tinggi serta menimbulkan konsekuensi ekonomi untuk berbagai negara.

Freight rates yang meningkat tinggi turut meningkatkan ongkos transportasi bagi berbagai perusahaan serta memperbesar total operating expense. Terdapat dua implikasi dari peningkatan ini, 1) Perusahaan akan meningkatkan harga dari produk mereka atau mengurangi produksi mereka, dan 2) Menahan peningkatan biaya dan menekan profit margin serta menunda ekspansi dan pertumbuhan perusahaan tersebut.

Kedua kemungkinan implikasi tersebut dapat berujung pada perekonomian yang melambat, harga barang menjulang tinggi, dan trade flow yang berkurang, khususnya bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia

Berdasarkan data trade complexity yang dikeluarkan oleh Atlas Harvard, karakter ekspor barang Indonesia masih dominan terfokus pada dua komoditas utama, yaitu 1) Barang komoditas pertanian seperti minyak kelapa sawit, dan 2) Barang komoditas pertambangan seperti batu bara.

Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com