Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Emas Dunia Naik, Ditopang Memanasnya Konflik di Timur Tengah dan Penantian Data Ekonomi AS

Kompas.com - 26/10/2023, 08:50 WIB
Yohana Artha Uly,
Akhdi Martin Pratama

Tim Redaksi

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia melanjutkan penguatan di akhir perdagangan Rabu (25/10/2023) waktu setempat atau Kamis pagi WIB didukung berlanjutnya ketegangan konflik di Timur Tengah.

Pergerakan harga emas juga dipengaruhi penantian terhadap data ekonomi utama Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi petunjuk kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Mengutip CNBC, harga emas dunia di pasar spot naik 0,5 persen ke level 1.979,79 dollar AS per ons. Sementara harga emas berjangka Comex New York Exchange naik 0,3 persen ke level 1.991,90 dollar AS per ons.

Baca juga: Mampukah IHSG Lanjut Menguat Hari Ini? Simak Analisis dan Rekomendasi Sahamnya

"Kekhawatiran geopolitik tidak akan hilang dalam jangka pendek, yang akan terus mendukung emas," kata Bob Haberkorn, Ahli Strategi Pasar Senior di RJO Futures.

Konflik antara Hamas Palestina dan Israel memanas. Militer Israel mengintensifkan pemboman di Gaza selatan semalam, di tengah seruan internasional untuk menghentikan pertempuran.

Kondisi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah itu membuat investor beralih ke emas yang memang dikenal sebagai aset lindung nilai di tengah gejolak global. Minat yang tinggi terhadap emas telah mengerek harga logam mulia tersebut.

Kendati begitu, kenaikan harga emas dibatasi oleh penguatan tipis indeks dollar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau U.S Treasury tenor 10 tahun. Kemarin indeks dollar AS naik 0,3 persen ke 106,5 sedangkan imbal hasil U.S Treasury naik ke level 4,95 persen.

Kondisi dollar AS yang menguat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sementara kenaikan imbal hasil U.S Treasury membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik.

Baca juga: Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Saat ini perhatian investor sedang beralih menanti data ekonomi terbaru AS yang akan menjadi pertimbangan kebijakan suku bunga The Fed ke depannya.

Pelaku pasar tengah menanti angka pertumbuhan ekonomi AS di kuartal ketiga yang dirilis Kamis pekan ini, serta menanti data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dirilis Jumat pekan ini.

Jika data menunjukkan perlambatan, maka akan memberikan lebih banyak alasan bagi The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga. Pasar saat ini mengharapkan The Fed melakukan jeda kenaikan suku bunga, menurut alat CME FedWatch.

"(Bila tidak ada kenaikan suku bunga) ini akan sangat mendukung emas dan memungkinkan untuk bisa melihat harga emas kembali mencapai level di atas 2.000 dollar AS," kata Bob Haberkorn.

Seperti diketahui, kebijakan suku bunga The Fed memang sangat mempengaruhi pergerakan harga emas.

Ketika suku bunga bertahan tinggi atau bahkan naik, maka emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi tak menarik bagi investor, berbeda dari obligasi dan saham yang memang memberikan imbal hasil.

Sebaliknya, ketika suku bunga tidak naik atau bahkan melemah, maka imbal hasil pada instrumen investasi lainnya ikut menurun, sehingga emas akan menjadi lebih menarik.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik 2 Persen di Tengah Kekhawatiran Konflik di Timur Tengah

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

IHSG Bakal Melemah Hari Ini, Simak Analisis dan Rekomendasi Sahamnya

IHSG Bakal Melemah Hari Ini, Simak Analisis dan Rekomendasi Sahamnya

Whats New
Emiten Prajogo Pangestu (BREN) Bakal Tebar Dividen Rp 270,68 Miliar

Emiten Prajogo Pangestu (BREN) Bakal Tebar Dividen Rp 270,68 Miliar

Whats New
Alasan Masyarakat Masih Enggan Berinvestasi Kripto, karena Berisiko Tinggi hingga Banyak Isu Negatif

Alasan Masyarakat Masih Enggan Berinvestasi Kripto, karena Berisiko Tinggi hingga Banyak Isu Negatif

Whats New
Proses 'Refund' Tiket Kereta Antarkota Jadi Lebih Cepat mulai 1 Juni

Proses "Refund" Tiket Kereta Antarkota Jadi Lebih Cepat mulai 1 Juni

Whats New
Transaksi Pasar Saham AS ‘Lesu’, Saham-saham di Wall Street Tertekan

Transaksi Pasar Saham AS ‘Lesu’, Saham-saham di Wall Street Tertekan

Whats New
Hormati Proses Hukum oleh KPK, PGN Sebut Penanganan Kasus Korupsi Tak Ganggu Layanan Operasional

Hormati Proses Hukum oleh KPK, PGN Sebut Penanganan Kasus Korupsi Tak Ganggu Layanan Operasional

Whats New
'Sidak' Kementerian ESDM Temukan Elpiji Oplosan di Hotel dan Kafe di Jakarta, Bogor, Bali

"Sidak" Kementerian ESDM Temukan Elpiji Oplosan di Hotel dan Kafe di Jakarta, Bogor, Bali

Whats New
KPPU Awasi Layanan Operasi Starlink di RI

KPPU Awasi Layanan Operasi Starlink di RI

Whats New
Simak, Ini Daftar Stasiun untuk Pembatalan Tiket Kereta di Seluruh Indonesia

Simak, Ini Daftar Stasiun untuk Pembatalan Tiket Kereta di Seluruh Indonesia

Whats New
Keluh Kesah Karyawan soal Potongan Gaji Iuran Tapera: Memberatkan!

Keluh Kesah Karyawan soal Potongan Gaji Iuran Tapera: Memberatkan!

Whats New
Buntut Kasih Harga Promo, Starlink Bantah Lakukan 'Predatory Pricing'

Buntut Kasih Harga Promo, Starlink Bantah Lakukan "Predatory Pricing"

Whats New
[POPULER MONEY] Keluh Kesah PNS yang Jadi Peserta Tapera | Buntut 60 Kloter Penerbangan 'Delay', Menhub Minta Garuda Berbenah

[POPULER MONEY] Keluh Kesah PNS yang Jadi Peserta Tapera | Buntut 60 Kloter Penerbangan "Delay", Menhub Minta Garuda Berbenah

Whats New
Gaji Komite Tapera Capai Rp 43 Juta Sebulan

Gaji Komite Tapera Capai Rp 43 Juta Sebulan

Whats New
PGN Buka Suara Usai Eks Petingginya Jadi Tersangka KPK

PGN Buka Suara Usai Eks Petingginya Jadi Tersangka KPK

Whats New
Warganet Keluhkan Layanan Digital Livin' by Mandiri yang Eror

Warganet Keluhkan Layanan Digital Livin' by Mandiri yang Eror

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com