Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Minyak Dunia "Terjun Bebas" ke Level Terendah sejak Juli 2023

Kompas.com - 08/11/2023, 10:30 WIB
Yohana Artha Uly,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

NEWYORK, KOMPAS.com - Harga minyak mentah dunia "terjun bebas" ke level terendah sejak akhir Juli 2023 dengan turun 4 persen pada akhir perdagangan Selasa (7/11/2023) waktu setempat atau Rabu (8/11/2023) pagi WIB.

Pelemahan harga minyak mentah dipicu data ekonomi yang beragam dari China, serta meningkatnya ekspor Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang meredakan kekhawatiran tentang ketatnya pasar dan seiring dengan penguatan dollar AS.

Mengutip Business Times, harga minyak mentah Brent anjlok 4,2 persen atau 3,57 dollar AS ke level 81,61 dollar AS per barrel. Sementara minyak mentah Intermediate West Texas Intermediate (WTI) AS turun 4,3 persen atau 3,45 dollar AS ke 77,37 dollar AS per barrel.

Baca juga: Selewengkan BBM Subsidi Pakai QR Code, Pertamina Sanksi 4 SPBU di Jayapura

"Pelaku pasar akan tetap waspada terhadap tanda-tanda konflik yang lebih luas di wilayah Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan, namun tampaknya ketakutan tersebut saat ini mereda," kata Analis Oanda, Craig Erlam.

Pemulihan ekspor minyak dari OPEC juga dinilai menambah tekanan pada harga minyak. Ekspor minyak mentah OPEC naik sekitar 1 juta barrel per hari (bph) sejak nilai terendahnya pada Agustus 2023 lalu, sebagai akibat dari penurunan permintaan domestik musiman di Timur Tengah.

"Tampaknya pasokannya terlalu banyak untuk diserap oleh negara-negara konsumen minyak," kata Analis UBS, Giovanni Staunovo.

Baca juga: Kasus Penyelewengan BBM Subsidi, Pertamina Skorsing SPBU di Sidoarjo

Dari sisi permintaan, data impor minyak mentah China pada Oktober 2023 memang menunjukkan pertumbuhan yang kuat baik secara tahunan maupun bulanan. Namun dari sisi ekspor barang dan jasa, China mengalami kontraksi lebih cepat dari perkiraan.

"Data tersebut menandakan berlanjutnya penurunan prospek ekonomi China yang didorong oleh memburuknya permintaan di negara tujuan ekspor terbesar negara itu yakni Barat," kata Analis City Index, Fiona Cincotta.

Ekspektasi penurunan pengolahan minyak mentah oleh perusahaan penyulingan yang berbasis di China antara bulan November dan Desember, juga dapat membatasi permintaan minyak mentah oleh negara tersebut dan memperburuk penurunan harga.

Baca juga: Pertamina Targetkan Bangun Terminal BBM Hijau Akhir 2024

Di sisi lain, Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan total konsumsi minyak mentah di negaranya akan turun sebesar 300.000 barrel per hari pada tahun ini, membalikkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan kenaikan konsumsi sebesar 100.000 barrel per hari

"Jadi ada kekhawatiran di pasar minyak mengenai peningkatan pasokan dan penurunan permintaan. Ini jelas bukan tentang pasar yang ketat," kata Analis Mizuho, Robert Yawger..

Pelemahan harga minyak juga disebabkan memudarnya harapan investor terhadap puncak suku bunga global. Kondisi itu mengerek nilai dollar AS dari posisi terendah baru-baru ini, membuat harga minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga mengurangi permintaan terhadap minyak.

Kini pasar pun tengah menanti arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) ke depannya. Ketua The Fed Jerome Powell akan memberikan pernyataan pada pekan ini, yang sekaligus menjadi sinyal kebijakan suku bunga ke depannya.

Baca juga: Harga BBM Pertamina, Shell, BP, Vivo Turun, Mana yang Paling Murah?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com