Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wamenkeu Sebut Suku Bunga The Fed Belum Akan Turun dalam Waktu Dekat

Kompas.com - 18/04/2024, 19:52 WIB
Rully R. Ramli,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekspektasi penurunan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), belum akan terealisasi dalam waktu dekat. Ini sebagaimana disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara.

Suahasil mengatakan, tingkat inflasi di Negeri Paman Sam masih tinggi, yakni 3,5 persen secara tahunan (yoy) pada Maret lalu.

Dengan tingkat inflasi yang masih tinggi, The Fed diproyeksi mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di level 5,25 sampai 5,5 persen, guna meredam laju inflasi tersebut.

Baca juga: The Fed Diramal Tahan Suku Bunga Lebih Lama, Rupiah Bisa Makin Lemah

Ilustrasi inflasi.SHUTTERSTOCK/LEONID SOROKIN Ilustrasi inflasi.

"Kondisi yang terjadi di Amerika Serikat itu inflasi Amerika ternyata masih tinggi, karena inflasinya masih tinggi maka kelihatannya suku bunga di Amerika Serikat belum akan diturunkan oleh bank sentral Amerika," tutur dia, dalam gelaran Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat 2024, Kamis (18/4/2024).

"Karena itu kalau beberapa bulan yang lalu kita mengharapkan suku bunga Amerika sudah akan turun, sepertinya tidak akan tidak akan terjadi dalam jangka waktu yang terlalu dekat," sambungnya.

Tingkat suku bunga acuan The Fed yang tetap tinggi bakal berdampak terhadap aliran modal asing ke pasar keuangan negara berkembang.

Pasalnya, dengan tingkat suku bunga acuan yang tetap tinggi, pasar keuangan AS dinilai lebih menarik, sehingga modal asing masuk ke pasar keuangan negara adidaya tersebut.

Baca juga: Apa Pengaruh Kebijakan The Fed terhadap Indonesia?

"Artinya kita masih harus menjaga berbagai macam kondisi volatilitas yang terjadi di dunia," katanya.

Selain tingkat suku bunga acuan yang masih tinggi, kondisi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, juga dihadapi oleh berbagai sentimen negatif lain.

Salah satu yang menjadi perhatian utama saat ini ialah eskalasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Suahasil menegaskan, pemerintah terus memperhatikan perkembangan di kawasan tersebut, setelah Iran melakukan serangan ke Israel pada 13 April 2024 lalu.

"Kita harapkan tidak terjadi eskalasi yang berlebihan, sehingga mengganggu perdagangan dunia, mengganggu sektor keuangan dunia," ucapnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com