Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga BBM Saat Ini Mahal karena Harga Minyak Dunia Sedang Tinggi

Kompas.com - 20/04/2022, 03:30 WIB
Aprillia Ika

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Masih banyak masyarakat yang tidak paham mengapa harga bahan bakar minyak (BBM) harus naik, misal BBM non-subsidi RON 92 seperti Pertamax. Sementara penjelasan sederhananya, harga BBM tinggi lantaran harga minyak mentah dunia juga sedang tinggi. 

"Harga BBM saat ini mahal karena harga minyak mentahnya sedang tinggi,” kata Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro dalam diskusi dengan media secara virtual, Selasa (19/4/2022).

Komaidi mengatakan, masyarakat harus paham bahwa pada era 80-90an, Indonesia memang penghasil minyak cukup besar, yaitu mencapai 1,7 juta barel per hari (bph), sehingga Indonesia menjadi anggota aktif Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Pada era 80-90an tersebut, konsumsi BBM domestik juga masih rendah sekitar 300.000an barrel per hari (bph).

Baca juga: Pengguna Pertamax Lari ke Pertalite, Pemerintah Berencana Tambah Kuota

Indonesia pengimpor minyak, bukan produsen minyak

Namun sejak 2008 Indonesia resmi keluar dari OPEC karena sudah menjadi net importir, atau negara pengimpor minyak. Sebab, produksi dalam negeri tak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan konsumsi BBM yang pesat.

Konsumsi BBM saat ini 1,6 juta bph, sedangkan produksi minyak mentah yang diolah jadi BBM kurang dari 750.000 bph. Dari total produksi itu, Indonesia hanya dapat sekitar 480.000 bph karena sebagian digunakan sebagai cost recovery, yakni dikembalikan ke kontraktor sebagai bagi hasil.

Lantaran Indonesia harus impor minyak mentah, saat ini harga minyak mentah dunia di atas 100 dollar AS per barrel. Harga acuan minyak domestik Indonesia yakni ICP, menunjukkan per Maret 2022 harga ICP 113 dollar AS per barrel, sedangkan asumsi di APBN 2022 hanya 63 dollar AS per barrel. 

Alhasil, pemerintah menaikkan harga Pertamax (RON 92) jadi Rp 12.500 per liter agar mendekati harga keekonomiannya Rp 16.000 per liter. Namun, sejumlah pihak tetap menilai harga tersebut terlalu tinggi. 

Baca juga: Soal Kenaikan Harga Pertamax, Bos Pertamina: Kami Memahami Kesulitan Masyarakat, Tapi...

Perhitungan keekonomian BBM, biaya produksinya tinggi

Menurut Komaidi, perhitungan menyeluruh harga minyak internasional dan domestik akan lebih adil jika mengetahui keekonomian harga BBM.

Biaya produksi hanya bagian dari harga jual. Ada komponen biaya lain yang sama seperti negara lain, salah satunya adalah harga minyak global, biaya pengolahan/pengilangan, biaya distribusi serta transportasi, termasuk penyimpanan dan lain-lain. Selain itu, ada pajak dan margin badan usaha juga. 

Doktor Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti itu menyebutkan komponen harga minyak mentah relatif sama karena harga berlaku internasional.

Namun komponen lainnya bisa berbeda tiap wilayah. Bahkan ada yang di satu negara berbeda-beda. Dia mencontohkan biaya pengilangan di Balongan dan Cilacap kompleksitas beda, konsekuensinya biaya juga beda. Pajak juga beda. Belum ditambah perbedaan pada biaya transportasi distribusi.

"Kalau mau fair kita hitung menyeluruh sekian persen acuan harga internasional dan domestik. Tapi bedanya tidak jauh. Misalnya domestik ICP. Itu kalau dibandingkan WTI, ICP lebih mahal karena kualitasnya di atas Brent,” katanya.

Baca juga: Sebut BBM Indonesia Masuk yang Termurah di Dunia, Dirut Pertamina: Pertamax Disubsidi Rp 3.500

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

KAI Bakal Terima 1 Rangkaian Kereta LRT Jabodebek yang Diperbaiki INKA

KAI Bakal Terima 1 Rangkaian Kereta LRT Jabodebek yang Diperbaiki INKA

Whats New
BTN Relokasi Kantor Cabang di Cirebon, Bidik Potensi Industri Properti

BTN Relokasi Kantor Cabang di Cirebon, Bidik Potensi Industri Properti

Whats New
Pengelola Gedung Perkantoran Wisma 46 Ajak 'Tenant' Donasi ke Panti Asuhan

Pengelola Gedung Perkantoran Wisma 46 Ajak "Tenant" Donasi ke Panti Asuhan

Whats New
Shell Dikabarkan Bakal Lepas Bisnis SPBU di Malaysia ke Saudi Aramco

Shell Dikabarkan Bakal Lepas Bisnis SPBU di Malaysia ke Saudi Aramco

Whats New
Utang Rafaksi Tak Kunjung Dibayar, Pengusaha Ritel Minta Kepastian

Utang Rafaksi Tak Kunjung Dibayar, Pengusaha Ritel Minta Kepastian

Whats New
BEI Enggan Buru-buru Suspensi Saham BATA, Ini Sebabnya

BEI Enggan Buru-buru Suspensi Saham BATA, Ini Sebabnya

Whats New
PT Pamapersada Nusantara Buka Lowongan Kerja hingga 10 Mei 2024, Cek Syaratnya

PT Pamapersada Nusantara Buka Lowongan Kerja hingga 10 Mei 2024, Cek Syaratnya

Work Smart
Koperasi dan SDGs, Navigasi untuk Pemerintahan Mendatang

Koperasi dan SDGs, Navigasi untuk Pemerintahan Mendatang

Whats New
Cadangan Devisa RI  Turun Jadi 136,2 Miliar Dollar AS, Ini Penyebabnya

Cadangan Devisa RI Turun Jadi 136,2 Miliar Dollar AS, Ini Penyebabnya

Whats New
Bea Cukai Klarifikasi Kasus TKW Beli Cokelat Rp 1 Juta Kena Pajak Rp 9 Juta

Bea Cukai Klarifikasi Kasus TKW Beli Cokelat Rp 1 Juta Kena Pajak Rp 9 Juta

Whats New
Luhut Optimistis Upacara HUT RI Ke-79 Bisa Dilaksanakan di IKN

Luhut Optimistis Upacara HUT RI Ke-79 Bisa Dilaksanakan di IKN

Whats New
Perkuat Distribusi, Nestlé Indonesia Dukung PT Rukun Mitra Sejati Perluas Jaringan di Banda Aceh

Perkuat Distribusi, Nestlé Indonesia Dukung PT Rukun Mitra Sejati Perluas Jaringan di Banda Aceh

BrandzView
Simak, Rincian Kurs Rupiah Hari Ini di BRI hingga CIMB Niaga

Simak, Rincian Kurs Rupiah Hari Ini di BRI hingga CIMB Niaga

Whats New
Harga Emas Dunia Turun di Tengah Penantian Pasar

Harga Emas Dunia Turun di Tengah Penantian Pasar

Whats New
Resmi Melantai di BEI, Saham Emiten Aspal SOLA Naik 30 Persen

Resmi Melantai di BEI, Saham Emiten Aspal SOLA Naik 30 Persen

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com