Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Mentan SYL: Jangan Ada Main-main dalam Mengelola Pupuk Subsidi

Mentan SYL berharap, penyaluran pupuk subdisi didorong dengan langkah yang lebih optimal dan efisien.

Selain itu, sebut dia, perlu ada monitoring yang baik dari pusat sehingga petani bisa menerima pupuk subsidi sebagao kebutuhan komoditas pangan yang paling dasar.

“Pupuk menjadi salah satu hal yang paling menentukan untuk pertanian kita, jadi jangan ada main-main dalam mengelola pupuk subsidi. Apabila ada yang ketahuan menyalahgunakan pupuk subsidi, akan langsung ditindaklanjuti lebih serius,” ujar Mentan SYL dalam keterangan persnya, Rabu (20/7/2022).

Hal itu dikatakan oleh Mentan SYL dalam rapat koordinasi tata kelola pupuk bersubsidi tahun anggaran 2022 di Bogor, Selasa (19/7/2022).

Adapun rapat koordinasi tersebut turut dihadiri oleh pejabat tingkat provinsi dan kabupaten atau kota tiap provinsi yang menangani kegiatan pupuk bersubsidi sebanyak 192 peserta.

Mentan SYL mengatakan, pemerintah telah mengambil langkah strategis untuk menjaga ketersediaan, keterjangkauan pupuk, dan optimalisasi penyaluran pupuk bersubsidi, khususnya untuk petani.

Adapun langkah yang diambil dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2022 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian yang telah ditetapkan sejak Jumat (8/7/2022).

“Pupuk Subsidi tidak dikurangi, tetapi jenis pupuk yang disubsidi sudah disesuaikan dengan kebutuhan pangan paling dasar dan komoditi pangan dasar yang ada.

“Hal ini sejalan dengan perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena tetap mengalokasikan pupuk subsidi disaat beberapa negara lain mulai mengurangi pupuk subsidi bahkan ada yang tidak mampu memberikan pupuk subsidi lagi,” jelas Mentan SYL.

Mentan SYL menambahkan, pupuk bersubdisi diberikan untuk sembilan komoditas pangan pokok dan strategis, mulai dari padi jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kopi, dan kakao.

Sedangkan untuk jenis pupuk subsidi yang diberikan oleh pemerintah adalah jenis urea serta nitrogen, fosfar, dan kalium (NPK).

Ia melanjutkan, meski pupuk kimia masih sangat dibutuhkan petani, ada baiknya untuk mengurangi ketergantungan.

“Pupuk organik lebih bagus dan lebih terbuka pasarnya. Bagi petani yang tidak mendapatkan pupuk subsidi, pemerintah sudah menyiapkan fasilitas dana lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR),” ungkap Mentan SYL.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Yadi Sofyan Noor mendukung langkah strategis yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menjaga ketersediaan, keterjangkauan pupuk, dan optimalisasi penyaluran pupuk bersubsidi.

Menurut Yadi, hal itu sejalan dengan upaya KTNA di daerah yang mengimplementasikan pupuk organik untuk pertanian yang punya nilai tambah tinggi.

“Kami setuju dengan arahan yang diberikan Mentan SYL untuk tidak bergantung pada pupuk kimia. Bahkan saat ini sudah banyak mulai menggunakan pupuk organik yang diproduksi sendiri. Jadi kita bisa lebih maksimal lagi dan memperluas lagi penggunaan pupuk organik,” kata Yudi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Dirjen PSP) Kementan Ali Jamil berharap perubahan penetapan pupuk subsidi dapat lebih disosialisasikan dengan baik di tingkat provinsi hingga desa.

Hasil rapat tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian bersama dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan subsidi pupuk untuk ke depannya.

“Kita berharap melalui tata kelola pupuk ini ke depannya tidak ada lagi hiruk pikuk pengusulan dan pengelolaan pupuk subsidi,” jelas Ali.

https://money.kompas.com/read/2022/07/20/140842426/mentan-syl-jangan-ada-main-main-dalam-mengelola-pupuk-subsidi

Terkini Lainnya

KJRI Cape Town Gelar 'Business Matching' Pengusaha RI dan Afrika Selatan

KJRI Cape Town Gelar "Business Matching" Pengusaha RI dan Afrika Selatan

Whats New
Baru 4 Bulan, Sudah 11 Bank Perekonomian Rakyat yang Tumbang

Baru 4 Bulan, Sudah 11 Bank Perekonomian Rakyat yang Tumbang

Whats New
Maskapai Akui Tak Terdampak Pengurangan Bandara Internasional

Maskapai Akui Tak Terdampak Pengurangan Bandara Internasional

Whats New
Bank BTPN Raup Laba Bersih Rp 544 Miliar per Maret 2024

Bank BTPN Raup Laba Bersih Rp 544 Miliar per Maret 2024

Whats New
Melalui Aplikasi Livin' Merchant, Bank Mandiri Perluas Jangkauan Nasabah UMKM

Melalui Aplikasi Livin' Merchant, Bank Mandiri Perluas Jangkauan Nasabah UMKM

Whats New
Hari Tuna Sedunia, KKP Perluas Jangkauan Pasar Tuna Indonesia

Hari Tuna Sedunia, KKP Perluas Jangkauan Pasar Tuna Indonesia

Whats New
Terima Peta Jalan Aksesi Keanggotaan OECD, Indonesia Siap Tingkatkan Kolaborasi dan Partisipasi Aktif dalam Tatanan Dunia

Terima Peta Jalan Aksesi Keanggotaan OECD, Indonesia Siap Tingkatkan Kolaborasi dan Partisipasi Aktif dalam Tatanan Dunia

Whats New
Pasarkan Produk Pangan dan Furnitur, Kemenperin Gandeng Pengusaha Ritel

Pasarkan Produk Pangan dan Furnitur, Kemenperin Gandeng Pengusaha Ritel

Whats New
Punya Manfaat Ganda, Ini Cara Unit Link Menunjang Masa Depan Gen Z

Punya Manfaat Ganda, Ini Cara Unit Link Menunjang Masa Depan Gen Z

BrandzView
Asosiasi Dukung Pemerintah Cegah Penyalahgunaan Narkoba pada Rokok Elektrik

Asosiasi Dukung Pemerintah Cegah Penyalahgunaan Narkoba pada Rokok Elektrik

Whats New
Impor Bahan Baku Pelumas Tak Lagi Butuh Pertek dari Kemenperin

Impor Bahan Baku Pelumas Tak Lagi Butuh Pertek dari Kemenperin

Whats New
Cara Isi Token Listrik secara Online via PLN Mobile

Cara Isi Token Listrik secara Online via PLN Mobile

Work Smart
Pencabutan Status 17 Bandara Internasional Tak Berdampak ke Industri Penerbangan

Pencabutan Status 17 Bandara Internasional Tak Berdampak ke Industri Penerbangan

Whats New
Emiten Sawit Milik TP Rachmat (TAPG) Bakal Tebar Dividen Rp 1,8 Triliun

Emiten Sawit Milik TP Rachmat (TAPG) Bakal Tebar Dividen Rp 1,8 Triliun

Whats New
Adu Kinerja Keuangan Bank BUMN per Kuartal I 2024

Adu Kinerja Keuangan Bank BUMN per Kuartal I 2024

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke