Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Antara Euforia Mudik dan Realita Inflasi

Idul Fitri juga dianggap sebagai momen untuk memperbarui diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Momen Idul Fitri selalu ditunggu-tunggu oleh jutaan umat Muslim di seluruh dunia, terutama di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar.

Lebaran, sebutan populer untuk Idul Fitri, tidak hanya penanda berakhirnya bulan suci Ramadhan, tetapi juga membawa beragam tradisi yang merayakan kebersamaan, kemenangan spiritual, dan kesenangan duniawi.

Salah satu tradisi yang paling ikonik adalah mudik, atau pulang ke kampung halaman, yang menjadi ritual tahunan bagi banyak orang.

Saat tahun 2023, jumlah pemudik Lebaran lebih dari 130 juta orang. Arus kendaraan yang melalui tol mencapai 1,91 juta mobil (di luar kendaraan roda 2).

Kesempatan berkumpul bersama keluarga, bertukar cerita, dan membagikan kebahagiaan menjadi inti dari tradisi ini. Makanan lezat seperti ketupat, opor ayam, dan rendang, yang khas disajikan saat Lebaran, menambah kehangatan momen tersebut.

Namun, seperti dua sisi mata uang, Lebaran juga membawa dampak lain yang perlu kita pahami. Di satu sisi, ada kegembiraan, namun di sisi lain, ada pula tantangan dan dampak yang mungkin tidak selalu positif.

Ada sejumlah dampak positif Lebaran, yakni:

  • Memperkuat silaturahmi. Tradisi silaturahmi Lebaran mempererat hubungan antarmanusia. Momen maaf-memaafkan membangun kembali jembatan persaudaraan yang mungkin sempat retak.
  • Dukungan kepada yang membutuhkan. Zakat fitrah dan sedekah menjadi wujud nyata kepedulian sosial, membantu mereduksi kesenjangan ekonomi.
  • Pendorong ekonomi lokal. Perayaan Idul Fitri seringkali meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, memberi keuntungan bagi pedagang kecil hingga besar.
  • Pembaharuan diri. Ini adalah waktu untuk introspeksi dan memulai lembaran baru dengan nilai-nilai dan perilaku yang lebih baik.

Sementara dampak negatif yang perlu diantisipasi, antara lain:

  • Konsumsi berlebihan. Gaya hidup konsumtif terkadang menjadi bayang-bayang yang mengiringi perayaan Lebaran, dari belanja berlebih hingga pemborosan makanan.
  • Macet dan polusi. Tradisi mudik kadang kala berujung pada kemacetan parah dan meningkatnya polusi udara.
  • Tantangan ekonomi pasca-Lebaran. Beban finansial pasca-Lebaran sering menjadi masalah bagi sebagian orang, dampak dari pengeluaran besar-besaran selama hari raya.
  • Risiko kesehatan. Pertemuan besar dan perjalanan jarak jauh bisa meningkatkan risiko sakit, karena kecapaian dan kondisi imun tubuh menurun.

Lebih jauh, ada efek samping lain yang perlu diantisipasi adalah berupa tamu tak diundang, yakni inflasi.

Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Lebaran tahun lalu (April 2023) meningkat ke level 0,33 persen secara bulanan.

Inflasi ini terjadi karena permintaan terhadap berbagai barang meningkat drastis, sementara pasokan terbatas, yang berujung pada kenaikan harga.

Hal ini akan berdampak pada beberapa hal, yakni:

  • Daya beli menurun. Kenaikan harga membuat uang yang sama membeli lebih sedikit.
  • Keluarga berpenghasilan rendah terdampak Lebih. Mereka harus menghabiskan lebih banyak untuk kebutuhan dasar.
  • Perencanaan keuangan Jadi rumit. Anggaran yang telah disiapkan mungkin tidak cukup lagi.

Apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi hal ini? Kita bisa bijak mengatur anggaran dengan mengutamakan kebutuhan dasar dan menyisihkan dana untuk keadaan tak terduga.

Dengan perencanaan keuangan matang, kita bisa meminimalkan dampak negatif inflasi saat Lebaran, memastikan perayaan tetap berlangsung suka cita tanpa khawatir berlebihan soal keuangan.

Lebaran memang membawa banyak cerita dan warna dalam kehidupan masyarakat. Kesadaran untuk merayakan dengan bijak, mengambil hikmah dari tradisi yang ada, dan berupaya meminimalkan dampak negatifnya, akan menjadikan Lebaran tidak hanya sebagai momentum kemenangan spiritual, tapi juga kemenangan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

https://money.kompas.com/read/2024/04/07/095345626/antara-euforia-mudik-dan-realita-inflasi

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke