Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PT PGN Menolak Direposisi

Kompas.com - 22/06/2012, 17:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - PT PGN Tbk menolak untuk mereposisi perusahaannya yang saat ini bertindak sebagai "transporter" (pengangkutan) sekaligus "trader" (niaga) gas bumi.

"Saya tidak setuju. Selama ini, PGN sudah terbukti manfaatnya membangun jaringan gas transmisi dan distribusi skala nasional dan propinsi yang lengkap," kata Dirut PGN, Hendi P Santoso di Jakarta, Jumat (22/6/2012).

Menurut dia, peraturan yang ada sudah memberikan kebebasan suatu perusahaan membangun jaringan pipa. Namun, saat ini, lanjutnya, banyak perusahaan niaga (trader) dan bukan pengangkutan (transporter).

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM, Rudi Rubiandini mengatakan, pemerintah akan mengkaji rangkap posisi PGN yang saat ini "transporter" sekaligus "trader".

Namun, lanjutnya, perubahan posisi hanya menjadi "transporter" tidak mudah, karena PGN tidak 100 persen dimiliki negara.

Wakil Ketua Komisi VII DPR, Zainuddin Amali juga mendukung posisi PGN hanya sebagai "transporter", sehingga industri gas menjadi lebih efisien.

Hendi juga menolak jika posisi PGN dikatakan melanggar Peraturan Menteri ESDM No 19 Tahun 2009 tentang Kegiatan Usaha Gas Bumi Melalui Pipa.

"Meskipun sudah ada permen, namun sampai saat ini hanya PGN yang membangun pipa. Sementara lainnya hanya perusahaan niaga," katanya.

Apalagi, tambahnya, PGN sudah membangun dan mengoperasikan jaringan transmisi Sumsel-Jabar (South Sumatera-West Java/SSWJ) jauh sebelum keluarnya Permen ESDM 19/2009 dan bahkan UU No 22 Tahun 2001 tentang Migas.

"Tidak masuk akal, begitu ada UU, lalu PGN dibubarkan. Kalau bubar, siapa yang mau bangun pipa," ujarnya.

Ia menambahkan, pembentukan anak usaha sendiri yang mengacu Permen ESDM 19/2009 sebenarnya substansinya sama saja dengan posisi PGN saat ini.

"Substansinya sama saja yakni ’open access’. Semua bisa pakai kalau ada kapasitasnya. Jadi, secara substansi, kami sudah sesuai Permen ESDM," katanya.

Sebelumnya, pengamat energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan, posisi PGN sebagai "transporter" sekaligus "trader" melanggar Permen ESDM 19/2009.

Pasal 19 Permen ESDM 19/2009 menyebutkan, badan usaha pemegang izin usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa dan hak khusus dilarang melakukan kegiatan usaha niaga gas bumi melalui pipa pada fasilitas pengangkutan gas bumi yang dimiliki atau dikuasainya.

Lalu, dalam hal badan usaha pemegang izin usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa dan hak khusus melakukan kegiatan usaha niaga gas bumi melalui pipa pada fasilitas pengangkutan gas bumi yang dimilikinya, maka wajib membentuk badan usaha terpisah dan mempunyai izin usaha niaga gas bumi melalui pipa.

"Saat ini, PGN mengalirkan gas miliknya melalui pipa SSWJ yang juga dikuasainya. Ini melanggar Permen ESDM tersebut," kata Komaidi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pabrik Sepatu Bata Tutup, Kemenperin Bakal Panggil Manajemen

Pabrik Sepatu Bata Tutup, Kemenperin Bakal Panggil Manajemen

Whats New
Capai 12,5 Persen, Pertumbuhan Ekonomi Dua Wilayah Ini Tertinggi di Indonesia

Capai 12,5 Persen, Pertumbuhan Ekonomi Dua Wilayah Ini Tertinggi di Indonesia

Whats New
Per Februari 2024, Jumlah Pengangguran RI Turun Jadi 7,20 Juta Orang

Per Februari 2024, Jumlah Pengangguran RI Turun Jadi 7,20 Juta Orang

Whats New
Pembangunan Infrastruktur di Australia Jadi Peluang untuk Produsen Baja Lapis RI

Pembangunan Infrastruktur di Australia Jadi Peluang untuk Produsen Baja Lapis RI

Whats New
KAI Ubah Pola Operasi, 21 Kereta Berhenti di Stasiun Jatinegara

KAI Ubah Pola Operasi, 21 Kereta Berhenti di Stasiun Jatinegara

Whats New
Kejar Target 1 Juta Barrel Minyak, Industri Hulu Migas Hadapi Keterbatasan Rig

Kejar Target 1 Juta Barrel Minyak, Industri Hulu Migas Hadapi Keterbatasan Rig

Whats New
PGN Suplai Gas Bumi untuk Smelter Tembaga Freeport

PGN Suplai Gas Bumi untuk Smelter Tembaga Freeport

Whats New
KKP Kembangkan Jejaring Perbenihan Nasional Ikan Nila

KKP Kembangkan Jejaring Perbenihan Nasional Ikan Nila

Whats New
Kemenhub Evaluasi Pola Pengasuhan di STIP Jakarta

Kemenhub Evaluasi Pola Pengasuhan di STIP Jakarta

Whats New
Konsumsi Rumah Tangga Kembali Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Kuartal I-2024

Konsumsi Rumah Tangga Kembali Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Kuartal I-2024

Whats New
Frekuensi Perjalanan LRT Jabodebek Ditambah, Waktu Tunggu Lebih Cepat

Frekuensi Perjalanan LRT Jabodebek Ditambah, Waktu Tunggu Lebih Cepat

Whats New
Kepala Bappenas Sebut Pembangunan IKN Capai 80,82 Persen

Kepala Bappenas Sebut Pembangunan IKN Capai 80,82 Persen

Whats New
Simak Kurs Rupiah Hari Ini di BCA hingga BNI

Simak Kurs Rupiah Hari Ini di BCA hingga BNI

Spend Smart
Pabrik Sepatu Bata di Purwakarta Tutup, Bagaimana Prospek Sahamnya?

Pabrik Sepatu Bata di Purwakarta Tutup, Bagaimana Prospek Sahamnya?

Earn Smart
Ada Regulasi Ketransmigrasian Baru, Kemendes Sebut Sebagai Modal Pengembangan Transmigrasi Modern

Ada Regulasi Ketransmigrasian Baru, Kemendes Sebut Sebagai Modal Pengembangan Transmigrasi Modern

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com