Ramai-ramai Menghindari Pajak

Kompas.com - 23/06/2013, 19:08 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorErlangga Djumena
KOMPAS.com -Jika kasus ini terjadi di Indonesia, mungkin misterinya akan terkubur selamanya. Terkubur pula miliaran dollar AS dana hasil penghindaran pajak. Akan tetapi, ini adalah kasus Apple Inc, yang bermarkas di Cupertino, California, Amerika Serikat.

Perusahaan penghasil iPad, iPhone, dan aneka gadget produk teknologi informasi ini jadi berita besar pada Mei 2013. Pasalnya, dalam empat tahun terakhir Apple hanya membayar pajak sedikit. Ini karena Apple melakukan rekayasa keuangan lewat rekayasa markas korporasi sehingga secara hukum keuangan, Apple tidak salah jika membayar pajak rendah.

Ironisnya, pajak rendah yang dibayar Apple ini terjadi karena mengelabui laporan keuangan, termasuk mengelabui pendapatan dari hasil penjualan produk ke konsumen AS sendiri.

Apple dibangun dari ide warga AS, produk-produknya dihasilkan para pekerja AS, serta banyak pendapatannya berasal dari konsumen AS. Namun, pendapatan ini bisa bebas pajak karena skema luar biasa.

Penyelidik Kongres AS pada Mei lalu menemukan bahwa Apple tidak membayar pajak sesuai dengan tingkat pajak 35 persen atas keuntungan 74 miliar dollar AS dalam empat tahun terakhir, sejak awal 2009 hingga akhir 2012. Dengan tingkat pajak 35 persen di AS, seharusnya Apple membayar pajak 25,9 miliar dollar AS.

Di harian New York Times edisi 4 Juni, Chief Executive Apple Timothy D Cook membantah adanya penghindaran pajak. Pada 20 Mei lalu di hadapan Kongres AS, Cook juga mengatakan bahwa Apple membayar pajak 30,5 persen dari penghasilan yang didapat dari AS.

Informasi mulai simpang siur. Menurut Cook, Apple membayar pajak secara benar. Jika Apple membayar pajak 30,5 persen, bukan 35 persen, itu karena Apple membayar pajak sesuai persentase tingkat pajak di banyak negara lokasi perusahaan afiliasi Apple berbisnis.

AS memajaki Apple sesuai dengan tingkat pajak yang berlaku di negara tempat Apple berusaha. Menurut New York Times, Apple terutama berbisnis di Eropa, China, Singapura, dan AS sendiri.

Penjualan produk-produk Apple di seluruh dunia dilakukan di markas Apple di Cork, Irlandia. Nah, Irlandia mengenakan pajak korporasi sebesar 2 persen atas keuntungan yang diraih Apple. Jika keuntungan Apple dari bisnis di Irlandia direpatriasi ke AS, Apple akan dikenai pajak 2 persen lagi.

Ini sesuai dengan peraturan di AS bahwa jika keuntungan Apple direpatriasi dari Irlandia ke AS, persentase pajak yang dikenakan sesuai dengan tingkat pajak di negara mana keuntungan itu diperoleh, dalam hal ini adalah Irlandia

Karena itu, jika dirata-rata total pajak Apple tidak akan sampai pada 35 persen. Sampai di titik ini, Cook tampaknya benar secara kasatmata.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Spend Smart
Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Smartpreneur
AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

Rilis
Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Whats New
Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Whats New
Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Whats New
Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Whats New
IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

Rilis
Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Whats New
Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Whats New
5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

Whats New
Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Rilis
Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Whats New
5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

Earn Smart
Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X