BI: Peredaran Uang Jelang Pemilu Terkendali

Kompas.com - 17/03/2014, 13:11 WIB
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Mashudi bersama Kasatreskrim, AKBP Nugroho Arianto memperlihatkan uang palsu saat ekspos di Mapolrestabes Bandung, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Senin (24/2/2014). Jajaran Polrestabes Bandung mengungkap praktik pembuatan dan penjualan uang palsu yang dilakukan oleh tersangka berinisial TYD (43) selama beberapa bulan terakhir yang mencapai Rp 1,1 miliar. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN GANI KURNIAWANKapolrestabes Bandung, Kombes Pol Mashudi bersama Kasatreskrim, AKBP Nugroho Arianto memperlihatkan uang palsu saat ekspos di Mapolrestabes Bandung, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Senin (24/2/2014). Jajaran Polrestabes Bandung mengungkap praktik pembuatan dan penjualan uang palsu yang dilakukan oleh tersangka berinisial TYD (43) selama beberapa bulan terakhir yang mencapai Rp 1,1 miliar. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang digelarnya pemilihan umum kerap terjadi peredaran uang palsu. Namun demikian, pihak Bank Indonesia (BI) menilai peredaran uang masih terkendali menjelang pemilu.

"Kita mengikuti kondisi pasar pada saat pemilu setiap 5 tahun secara umum kondisinya tetap sama dan terawasi dengan baik. Yang perlu kita siapkan justru yang lebih utama pada saat menjelang hari raya," kata Gubernur BI Agus DW Martowardojo di kantornya, Senin (17/3/2014).

Agus memandang, secara umun peredaran uang terkendali. Akan tetapi, ia mengaku rasio uang palsu pada tahun 2013 memang sedikit meningkat walaupun tidak besar jumlahnya. Sayangnya, ia tidak memberikan angka pasti berapa uang palsu yang beredar selama periode tersebut.

"Itu sudah kita sikapi, kita awasi. Yang ingin kita jelaskan bahwa antara uang palsu kita mesti bedakan dengan penipuan pembayaran," ujarnya.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan pada dasarnya terdapat perbedaan pemahaman antara praktik penipuan alat pembayaran dengan praktik penggunaan uang palsu. Penipuan adalah menggunakan uang yang tidak berlaku untuk melakukan pembayaran, sementara praktik peredaran uang palsu adalah tindakan memalsukan uang yang sah digunakan sebagai alat pembayaran.

"Itu jumlah ada sedikit naik dibandingkan tahun 2012, data tahun 2013. Tetapi terkendali," ujar Agus.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X