Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rifda Naufalin
Dosen

Prof. Dr. Rifda Naufalin, S.P., M.Si. Lahir di Kudus pada 1970. Pendidikan kesarjanaan diselesaikan di Fakultas Pertanian, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Berkesempatan studi S2 di Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bidang Ilmu Pangan. Gelar Doktor diperoleh dari Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (2002-2005) bidang Ilmu Pangan. Bekerja sebagai staff pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto sejak tahun 1995 hingga sekarang. Mengajar beberapa mata kuliah, yakni Kimia Pangan, Mikrobiologi Dasar, Mikrobiologi Pangan, Analisis Pangan, dan Manajemen Mutu Keamanan Pangan.

Dampak Fluktuasi Harga Pangan Awal 2024

Kompas.com - 10/05/2024, 12:48 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

MENURUT data terbaru dari BPS, pada Januari 2024, terjadi peningkatan sebesar 2,80 persen dalam Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional dibandingkan bulan yang sama 2023.

Sektor Pertanian mencatat kenaikan tertinggi sebesar 5,53 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Januari 2024, yakni jahe, padi, jagung, dan beras.

Pemerintah sedang memperhatikan komoditas-komoditas ini, termasuk beras, minyak goreng, cabai, bawang, daging, telur ayam ras, dan daging sapi, untuk memastikan ketersediaannya dan tetap terjangkau oleh masyarakat.

Pada bulan yang sama, harga beras masih mengalami inflasi sebesar 0,64 persen, dengan kontribusi 0,03 persen terhadap inflasi nasional.

Harga beras premium meningkat secara signifikan, mencapai Rp 14.380 per kilogram pada minggu ketiga Februari 2024, naik 5,29 persen dibandingkan dengan bulan Januari.

Peningkatan harga beras terjadi di hampir seluruh provinsi di Indonesia, mencakup 179 kabupaten/kota, melebihi rata-rata nasional.

Faktor-faktor yang memengaruhi fluktuasi harga beras meliputi produksi dan persediaan, cuaca, biaya produksi, kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, dan pola konsumsi masyarakat.

Kenaikan harga pangan harus diprediksi dan diantisipasi. Ketersediaan pangan yang stabil menjadi penanda kesejahteraan masyarakat.

Kenaikan harga pangan berdampak besar pada masyarakat, terutama bagi mereka dengan pendapatan terbatas yang harus mengalokasikan sebagian besar uang mereka untuk makanan.

Ketidakpastian dalam pasokan pangan dapat menimbulkan berbagai masalah, termasuk ketimpangan sosial di masyarakat.

Kenaikan harga bahan pangan bisa menjadi pemicu inflasi, dan perlu ditangani dengan kebijakan ekonomi yang tepat agar dampak negatifnya dapat diatasi.

Harga beras telah meningkat secara drastis sejak awal 2024. Ini telah memberikan dampak besar pada tingkat inflasi di Indonesia, dengan kenaikan harga beras saja menyebabkan inflasi mencapai 0,64 persen pada Januari 2024.

Ini membuat komponen inflasi makanan yang rentan fluktuasi naik menjadi 7,22 persen.

Kenaikan harga beras berkontribusi pada kenaikan inflasi secara keseluruhan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras mengalami inflasi sebesar 0,64 persen pada Januari 2024, menyumbang sebesar 0,03 persen inflasi keseluruhan.

Kenaikan harga-harga ini akan menurunkan daya beli terutama di kalangan masyarakat dengan pendapatan terbatas, mengingat sebagian besar pengeluaran mereka untuk makanan.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com