Bermodal Rp 280.000, Kini Seragam Militer Arie Tembus Amerika (2)

Kompas.com - 28/08/2014, 14:41 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
EditorErlangga Djumena

KOMPAS.com -
Hobi seringkali bisa menjadi sebuah ladang bisnis jika jeli melihat peluang. Itulah yang Arie Setya Yudha jalani hingga sukses mengembangkan bisnis seragam militer di bawah bendera PT Molay Satria Indonesia.

Meski masih tercatat sebagai seorang mahasiswa, Aria kini sudah mampu menjelma sebagai pebisnis seragam tempur yang berhasil menembus pasar internasional. Produk yang dia hasilkan tidak hanya pakaian tempur atawa pakaian militer, tetap juga perlengkapan lainnya seperti topi dan ikat pinggang, sepatu dan tas.

Arie hanya mengandalkan penjualan lewat internet untuk mempromosikan produknya ke luar negeri. Sementara, di dalam negeri dia memiliki beberapa distributor dan diler resmi di Jakarta Pusat.

Dorongan kuat untuk memulai bisnis kala itu lantaran Aria memiliki kegemaran bermain airsoft gun. Sementara, biaya untuk bisa bermain permainan tersebut tidak murah. Apalagi dia hanya mengandalkan uang kiriman orang tua yang terbatas. Agar bisa terus menjalankan hobinya, Aria berniat mencari uang tambahan.

Kemudian terbesitlah ide untuk membuat seragam airsoft gun. Karena waktu itu saya melihat seragam yang ada di pasar tidak memiliki kualitas yang bagus. "Jadi saya ingin buat seragam yang kualitasnya tinggi,” tutur pria kelahiran 31 Maret 1990 ini.

Dengan menyisihkan uang jajan, Arie mengumpulkan modal Rp 280.000 untuk memulai usahanya pada tahun 2009. Modal tersebut ia pergunakan untuk membeli 4 meter (m) kain. Arie lalu membuat desain dan pola pakaian. Sedangkan proses pengerjaannya ia serahkan ke penjahit.

Arie kemudian mengunggah hasil produksi pertamanya ke forum jual beli di internet. Ternyata banyak yang tertarik dengan seragam buatannya. Seragam tersebut terjual seharga Rp 560.000. "Keuntungannya untuk bayar ongkos jahit dan modal produksi pesanan selanjutnya," kata dia.

Setelah itu pesanan seragam terus mengalir. Dia pun makin serius menjalani usaha ini dengan membuka rumah produksi yang berlokasi di Yogyakarta. Dengan modal Rp 25 juta dari keuntungan usaha yang dikumpulkan, Arie membeli mesin jahit dan beberapa peralatan lainnya untuk produksi. "Jadi sebenarnya saya beli mesin jahit dan saya kasih ke tukang jahit. Rumah mereka saya jadikan rumah produksi kami," kata dia.

Saat ini, Arie sudah memiliki tujuh penjahit langganan untuk produksi sehari-hari. Sementara, jika produksi sedang banyak, ia juga menyebar pesanan jahitan ke penjahit lain.

Dengan modal yang masih terbatas kala itu, pria berusia 24 tahun ini terus mengembangkan usahanya. Kendati tak punya latarbelakang di bidang konveksi, Arie merasa hal itu tidak menjadi kendala. Ia banyak belajar secara otodidak dari internet. Pengetahuan tentang bahan baku yang berkualitas hingga cara mendapatkan pemasok dia dapatkan dari riset di internet.

Halaman:


Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X