Kompas.com - 13/12/2014, 14:50 WIB
Antrean pengendara motor mengisi bahan bakar di SPBU Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (17/11/2014). Presiden Joko Widodo mengumumkan kenaikan harga bahan bakar premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 dan solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 terhitung mulai Selasa (18/11/2014) pukul 00.00. KOMPAS.com/UNO KARTIKAAntrean pengendara motor mengisi bahan bakar di SPBU Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (17/11/2014). Presiden Joko Widodo mengumumkan kenaikan harga bahan bakar premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 dan solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 terhitung mulai Selasa (18/11/2014) pukul 00.00.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

SURABAYA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mendukung langkah pemerintah yang kini tengah mengaji penerapan subsidi tetap untuk bahan bakar minyak (BBM). Penerapan subsidi tetap dinilai lebih sehat dari sisi fiskal.

"Yang diperlukan untuk menyikapi fluktuasi harga minyak adalah skim pengelolaan sehat, salah satunya fixed subsidy," ujar Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Solikin M. Juhro kepada wartawan di Surabaya, Sabtu (13/12/2014).

Solikin menuturkan, penerapan fixed subsidy atau subsidi tetap adalah salah satu alternatif solusi bagi pemerintah di tengah munculnya berbagai pertanyaan mengapa pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada saat harga minyak dunia melorot tajam.

Solikin mengatakan, pihak bank sentral pun tidak menduga sebelumnya, ketika harga minyak dunia yang masih di kisaran 105 dollar AS per barel, mendadak terjun bebas bak roller coaster.

"Siapa yang bisa nyangka, Juni itu masih 105, tiba-tiba anjlok. Waktu menaikkan harga BBM itu, asumsi yang dipakai masih 105 dollar AS per barel. Kalau ini (harga BBM bersubsidi) diturunkan lagi, kemudian harga minyak dunia naik lagi, apa tidak mengganggu fiskal? Makanya alternatifnya fixed subsidy," jelas Solikin.

Jika subsidi tetap ini diterapkan, konsekuensinya, harga BBM bersubsidi juga akan fluktuatif mengikuti naik-turunnya harga minyak dunia. "Selain fixed subsidy, cara kedua adalah dengan hedging atau lindung nilai," imbuh dia.

Dengan hedging, maka harga beli minyak dalam kontrak juga lebih bisa dijaga, di tengah apresiasi dollar AS yang kuat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hingga akhir pekan ini, harga minyak terus merosot. Patokan AS minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, telah kehilangan 99 sen dari Rabu menjadi 59,95 dollar AS per barel. Di London, minyak mentah Brent untuk Januari mengikuti pola yang sama, berakhir turun 56 sen menjadi 63,68 dollar AS per barel.



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X