Fenomena Bisnis Kuliner di Jalan Senopati Jakarta

Kompas.com - 06/05/2015, 05:45 WIB
Prof Rhenald Kasali istProf Rhenald Kasali
EditorBambang Priyo Jatmiko

Tetapi lama-lama saya mendengar mereka mulai ketar-ketir juga. Modalnya habis, namun pelanggan belum juga datang secara rutin. Akibatnya, keluarga merekalah yang menjadi pelanggan tetapnya. Bahkan sekarang, mereka mulai bersungut-sungut. Kongsi terancam pecah, koki mulai gelisah. Cash flow terancam berhenti.

Problem Usaha Kuliner

Fenomena modal besar seperti ini sebenarnya bukan dimulai dari jalan Senopati. Jauh sebelumnya, anak-anak muda di Bandung sudah lebih dulu jatuh bangun di Jalan Dago.

Bahkan di pusat kuliner Kelapa Gading Jakarta Utara, adalah biasa kita temui berbagai rumah makan baru yang hanya bertahan setahun-dua tahun. Tapi demografi mereka agak berbeda. Ada perantau yang baru menjejakkan kakinya di Jakarta, dan ada pula pewarung yang baru naik kelas. Toh mereka tak luput dari risiko kegagalan.

Risiko ini mungkin agak  berbeda dengan mereka yang juga tengah menunggu warungnya ramai di lantai 2 Pasar Santa-Jakarta. Bedanya, di sini mereka baru menjejakkan kaki. Belajar menemui pelanggan dengan modal terbatas.  Di sini pelanggan hanya butuh beberapa puluh ribu rupiah untuk berkuliner sambil duduk di bangku kayu. Anda tentu tak akan komplain pulang dengan baju agak berbau asap karena ruangnya tak ber-AC.

Tetapi dimana-mana usaha kuliner selalu menghadapi ujian yang sama, yaitu konsumen yang datang melakukan belanja coba-coba. Ujian itu berlangsung 3-6 bulan, dan kalau mereka suka dan semua elemennya pas, barulah mereka menjadi pelanggan tetap.

Maka, usaha kuliner itu hanya punya tiga pilihan: membuat makanan yang disukai oleh pelanggan tetap seperti yang dilakukan merek-merek terkenal; mendapatkan lokasi yang membuat pelanggan tak punya pilihan lain semisal di sebuah terminal keberangkatan atau area parkir Gelora Senayan; atau franchise-kan saja makanan yang sudah punya pelanggan kuat namun masih dikelola secara amatir.

Di luar itu, daya saing akan menghadapi ujian yang berat. Setiap kali kita mendapat pujian maka di sebelah kita ada saja pendatang baru yang memindahkan sebagian pelanggan kita ke sana. Konsumen berpindah, menjadi kurang setia dengan merek yang kita bangun.Ditambah lagi, selera makanan berubah dari masa ke masa.

Fundamental: Bukan Uang

Lantas apa dong rahasia agar usaha kuliner  berhasil? Modal besar itu bukanlah sesuatu yang keren. Demikian juga lokasi premium dan tampilan  warung.  Yang keren itu sesungguhnya ada pada fundamental manusia berusaha, yaitu tahu persis siapa yang dibidik dan apa seleranya. Lokasi memang penting, modal juga menentukan. Tetapi di balik itu ada fundamentalnya, yaitu pemahaman tentang pelanggan, ikatan keberlangsungan, hubungan jangka panjang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X