Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Vietnam dan Malaysia Mengancam Produk Indonesia

Kompas.com - 08/10/2015, 11:50 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaku industri manufaktur Indonesia mulai ketar-ketir menyaksikan 12 negara yang bergabung dalam zona perdagangan bebas Trans Pacific Partnership (TPP). Betapa tidak, di antara negara yang bergabung itu terdapat Malaysia dan Vietnam yang berpotensi mengambil porsi ekspor Indonesia ke negara TPP yang lain.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian Ismy mengatakan, jenis produk manufaktur yang dihasilkan Malaysia dan Vietnam hampir sama dengan Indonesia. "Bisa saja produk dari Vietnam dan Malaysia menggusur produk Indonesia ke negara anggota TPP seperti  di pasar Amerika Serikat (AS)," kata Ernovian kepada Kontan,  Rabu (7/10).

Sebagaimana diketahui, negara yang bergabung dalam blok dagang baru ini adalah AS, Kanada, Jepang, Australia, Brunei, Cile, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam. “Mereka bergabung dan sama-sama memberikan kemudahan akses pasar," kata Ernovian.

Semula API berharap pemerintah bisa bergabung dalam blok dagang baru tersebut. Dengan bergabungnya Indonesia, maka ekspor dari Indonesia diharapkan bisa naik.

Mengacu data API, tahun lalu ekspor TPT tercatat 12 miliar dollar AS dengan porsi terbesar ke wilayah AS sebesar 36 persen, Eropa 16 persen, Jepang 7 persen, Asia Tenggara 7 persen, dan Timur Tengah 23 persen.

Senada dengan Ernovian, kekhawatiran serupa juga dilontarkan oleh Eddy Widjanarko, Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo). Ia bilang, dampak terbentuknya blok dagang baru itu akan terasa dalam jangka panjang. "Pesanan sepatu ke Vietnam akan naik, sedangkan Indonesia akan stagnan," kata Eddy pada Kontan, Rabu (7/10/2015).

Eddy berharap Indonesia mau bergabung dalam TPP tersebut, karena bisa membuka peluang ekspor sepatu Indonesia naik ke negara anggota TPP. Mengacu data Kementerian Perindustrian, ekspor industri alas kaki tahun 2014 tercatat 4,11 miliar dollar AS atau tumbuh 6,44 persen dari periode tahun sebelumnya senilai 3,86 miliar dollar AS. Adapun negara tujuan ekspor antara lain Amerika Serikat, Belgia, Jerman, Inggris dan Jepang.

Bentuk blok baru
Untuk menghadapi persaingan ini, Ernovian berharap pemerintah bergabung dengan blok dagang Eropa dan Turki. "Indonesia harus cepat bikin free trade agreement dengan Turki dan Eropa, ini juga bagus mendongkrak ekspor kita," tegas Ernovian.

Pendapat yang tak jauh berbeda disampaikan pula oleh Fitri Ratnasari Hartono, Direktur PT Pan Brothers Tbk (PBRX). Fitri bilang, Indonesia mesti menghadapinya dengan membentuk blok dagang baru dengan Eropa. "Kalau bergabung dengan Eropa masih memungkinkan. Karena sudah ada pembicaraan dengan pemerintah Indonesia," harap Fitri.

Jika tak bergabung dengan perdagangan bebas, Fitri khawatir produk dari Indonesia kalah bersaing dengan negara lain yang telah duluan bergabung dalam TPP. Ada kekhawatiran, pasar tekstil Indonesia di AS dan Jepang diambil alih produsen tekstil dari negara anggota TPP lainnya. "Dari sisi tekstil saja, kita bisa kalah," ujar Fitri pada Kontan, Rabu (7/10/2015).

Tak hanya dari tekstil dan sepatu saja, ada banyak produk manufaktur Indonesia yang akan kesulitan bersaing di negara TPT. Diantaranya adalah ban, otomotif dan elektronik. Sebagaimana diketahui, beberapa industri di Indonesia mengekspor ban ke AS dan negara anggota TPP lain seperti Jepang. Begitu juga dengan komponen otomotif, Indonesia juga ekspor ke beberapa negara TPP.

Sementara pada produk elektronik, Indonesia juga telah melakukan ekspor ke beberapa negara anggota TPP seperti Singapura, AS dan juga Jepang. Namun terkait blok dagang baru ini, Santo Kadarusman, Public Relation and Marketing Event Manager Polytron PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) belum mau berkomentar. "Saya belum tahu soal itu," ujar Santo pada Rabu (7/10/2015). (Benediktus Krisna Yogatama, Mimi Silvia)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[KURASI KOMPASIANA] Usulan Kompasianer untuk Mengentaskan Buta Aksara

[KURASI KOMPASIANA] Usulan Kompasianer untuk Mengentaskan Buta Aksara

Work Smart
Kode Transfer BCA, BRI, BNI, BTN, Mandiri, dan Bank Lainnya

Kode Transfer BCA, BRI, BNI, BTN, Mandiri, dan Bank Lainnya

Spend Smart
Cara Transfer BRI ke BRI dan Bank Lain dengan Mudah, Bisa lewat HP

Cara Transfer BRI ke BRI dan Bank Lain dengan Mudah, Bisa lewat HP

Spend Smart
Cara Upgrade ShopeePay Plus agar Bisa Transfer Saldo ke Rekening Bank

Cara Upgrade ShopeePay Plus agar Bisa Transfer Saldo ke Rekening Bank

Spend Smart
Cara Daftar BBM Subsidi Lewat Link subsiditepat.mypertamina.id

Cara Daftar BBM Subsidi Lewat Link subsiditepat.mypertamina.id

Whats New
Daftar Gerai Transmart yang Tutup Permanen

Daftar Gerai Transmart yang Tutup Permanen

Whats New
Ekonom: Kecil Kemungkinan BI Naikkan Suku Bunga Acuan dalam Jangka Pendek

Ekonom: Kecil Kemungkinan BI Naikkan Suku Bunga Acuan dalam Jangka Pendek

Whats New
Pengguna KRL Jabodetabek Hari Senin Diprediksi 800.000 Orang, KCI Tambah Perjalanan 'Commuter Feeder'

Pengguna KRL Jabodetabek Hari Senin Diprediksi 800.000 Orang, KCI Tambah Perjalanan "Commuter Feeder"

Whats New
Peran OJK Makin Kuat, Kini Punya 15 Kewenangan Penyidikan Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan

Peran OJK Makin Kuat, Kini Punya 15 Kewenangan Penyidikan Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan

Whats New
Meski Melambat, The Fed Diprediksi Masih akan Naikkan Suku Bunga Acuan

Meski Melambat, The Fed Diprediksi Masih akan Naikkan Suku Bunga Acuan

Whats New
Lion Air Group Buka Lowongan Kerja Pramugari dan Pramugara, Simak Syaratnya

Lion Air Group Buka Lowongan Kerja Pramugari dan Pramugara, Simak Syaratnya

Work Smart
PLN Targetkan 31 Pulau 3T di Jatim Teraliri Listrik Akhir 2023

PLN Targetkan 31 Pulau 3T di Jatim Teraliri Listrik Akhir 2023

Whats New
Bappenas Buka Lowongan Kerja hingga 15 Februari 2023, Simak Persyaratannya

Bappenas Buka Lowongan Kerja hingga 15 Februari 2023, Simak Persyaratannya

Work Smart
Kementerian ESDM: Indonesia Miliki Potensi EBT 3.686 GW untuk Modal Transisi Energi

Kementerian ESDM: Indonesia Miliki Potensi EBT 3.686 GW untuk Modal Transisi Energi

Whats New
Pemkab Rote Ndao Sepakati Kerja Sama dengan Surga Marina Indonesia Kembangkan Kawasan Marina Terpadu

Pemkab Rote Ndao Sepakati Kerja Sama dengan Surga Marina Indonesia Kembangkan Kawasan Marina Terpadu

Rilis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+