"Packaging", Gadis Manis Penjaga Merek

Kompas.com - 23/08/2016, 11:16 WIB
Teh tradisional dengan aneka merek dan dengan kemasan yang berbeda-beda dari berbagai daerah di Indonesia. Berbagai model kemasan atau packaging pada aneka ragam merek teh ini bisa membuktikan bagaimana kemasan berperan dalam menarik minat konsumen. KOMPAS/LUCKY PRANSISKATeh tradisional dengan aneka merek dan dengan kemasan yang berbeda-beda dari berbagai daerah di Indonesia. Berbagai model kemasan atau packaging pada aneka ragam merek teh ini bisa membuktikan bagaimana kemasan berperan dalam menarik minat konsumen.
EditorAmir Sodikin

Dalam aktivitas komunikasi pemasaran, penggunaan packaging, POP dan tenaga penjual (sales promotion girl/boy) pada area pasar swalayan merupakan hal yang penting dalam mendongkrak penjualan.

Masing-masing elemen komunikasi pemasaran punya peran yang sama pentingnya. Packaging yang cantik berfungsi sebagai pembeda dari produk kompetitor, POP berfungsi menarik perhatian calon pembeli dari kejauhan, dan SPG/SPB berfungsi “memaksa” calon pembeli untuk mencoba produk tersebut.

Packaging, lintas ilmu satu tujuan

Proses pembuatan packaging melibatkan banyak pihak. Bagian pemasaran menentukan tujuan dari pembuatan packaging tersebut, orang komunikasi mengemas pesan yang sesuai untuk packaging tersebut, bagian desain yang menentukan ukuran, jenis huruf dan warna yang sesuai untuk packaging tersebut.

Walau demikian, semuanya punya satu tujuan yang sama: produk harus dibeli!

Kolaborasi yang apik antara bagian pemasaran, komunikasi, dan desain akan mampu menghasilkan sebuah packaging yang dapat merepresentasikan citra merek yang tercantum dalam packaging tersebut.

Packaging yang baik harus berhasil membuat dirinya terpisah dari kompetitor walau ditempatkan pada shelf yang sama. Packaging harus mampu membuat calon pembeli mencoba isi yang ada dalam packaging tersebut.

Sebuah packaging yang kita lihat sesungguhnya mempunyai proses panjang dalam pembuatannya. Shimp (2003) menyebutkan ada lima tahapan dalam proses pembuatan desain packaging:

  1. Menentukan tujuan dan positioning merek.
  2. Melakukan analisis pada kategori produk dan menghubungkannya dengan tren-tren yang relevan.
  3. Melakukan analisis kompetitif pada produk sejenis.
  4. Mengidentifikasi atribut merek yang paling menonjol.
  5. Menentukan prioritas komunikasi, hal terpenting apa yang ingin disampaikan dalam packaging tersebut.


Persaingan yang sengit di antara packaging sering membuat sebuah merek berganti packaging dengan tujuan penyegaran dan pembaharuan. Sebuah merek yang tidak menyesuaikan desain packaging dengan tren yang ada akan disebut kuno dan ketinggalan zaman. Lain hal memang jika “kekunoan” tersebut menjadi keunikan dan daya jual dari merek tersebut.

Sebelum merek mengganti packaging yang ada, maka diperlukan sebuah evaluasi untuk packaging yang telah ada. Shimp (2012) menggunakan Model VIEW dalam mengevaluasi sebuah packaging.


Model VIEW tersebut merupakan akronim dari:

  • (V)isibility atau kemampuan sebuah packaging untuk menarik perhatian pada display atau shelf toko. Packaging harus punya kemampuan membedakan diri dari produk sejenis saat ditempatkan pada display atau shelf yang sama.
  • (I)nformation adalah kemampuan packaging dalam memberikan informasi yang berhubungan dengan produk melalui slogan dan informasi tambahan lainnya. Dalam beberapa kategori produk, informasi berupa cara penggunaan dan kandungan produk sangatlah penting. Hal ini harus jelas agar konsumen tidak melakukan kesalahan saat menggunakan produk. Pada kategori makanan, kejelasan kandungan produk sangat penting untuk menghindari konsumen yang alergi pada unsur tertentu.
  • (E)motional appeal atau daya tarik emosional adalah kemampuan packaging untuk menimbulkan perasaan ingin atau suasana hati yang mendukung. Di sinilah peran penting para desainer untuk dapat membangkitkan rasa elegan, senang, ceria, nostalgia, dan lainnya melalui kombinasi warna, jenis huruf dan material packaging.
  • (W)orkability merujuk pada fungsi sebuah packaging lebih dari sekadar cara berkomunikasi. Pada bagian ini, packaging harus dapat dilihat sebagai pelindung produk di dalamnya, packaging harus mudah digunakan dan dalam hal penyimpanan, packaging harus punya ketahanan (tidak boleh rusak) sejak dari pabrik hingga ke tangan konsumen, dan packaging tentunya harus ramah lingkungan.

 

Dengan melihat Model VIEW di atas, mari kita ambil satu packaging yang ada di dekat kita. Mari kita analisis apakah empat hal tersebut telah terpenuhi oleh packaging yang Anda pegang?

Jika tidak, tentu Anda akan bertanya-tanya, “Lalu kenapa saya masih membeli produk ini?” Nah, itulah keajaiban sebuah packaging

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X