Kompas.com - 28/12/2016, 07:17 WIB
Aab Abdullah saat menerima penghargaan KOMPAS.com/Estu SuryowatiAab Abdullah saat menerima penghargaan
|
EditorPalupi Annisa Auliani

Meski relatif menguntungkan, investasi saham bukan barang umum bagi masyarakat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2013 mencatat, tingkat pemahaman masyarakat tentang pasar modal masih 3,79 persen. Keikutsertaannya pun hanya 0,11 persen.

Merujuk data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), per 20 Desember 2016 tercatat pemilik single investor identification (SID) untuk bertransaksi di pasar keuangan di Indonesia baru 886.574 orang. Jumlah ini disebut sudah naik 104,88 persen dibandingkan 434.107 orang pada akhir 2015. 

Total SID tersebut sudah mencakup pemilik Surat Berharga Negara (SBN) dan reksa dana. Khusus untuk transaksi saham di Bursa Efek Indonesia, KSEI mencatat ada pertumbuhan 24,06 persen, yaitu dari 426.210 SID per akhir November 2015 menjadi 528.738 SID per November 2016.

(Baca juga: Jumlah Investor Pasar Modal Capai 886.574 Orang)

Pemikiran bahwa dibutuhkan modal cukup banyak untuk membeli saham masih jadi salah satu ganjalan. Padahal, sejak OJK dan BEI mengkampanyekan “Yuk Nabung Saham” pada 2015, investasi saham tak butuh modal besar.

Hanya dengan setoran awal minimum Rp 100.000, tiap orang dapat membuka rekening dana efek untuk mulai berinvestasi saham. Investor bisa membeli saham minimum satu lot—satuan saham—yang berisi 100 lembar saham.

(Baca juga: "Cuma Kencan tetapi Cuan")

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sejumlah terobosan teknologi yang dilaksanakan otoritas bursa, juga memudahkan masyarakat awam untuk ikut bertransaksi di pasar modal. Tak harus jadi "orang berduit" untuk mulai melantai di bursa saham.

Pilah-pilih saham

Namun, memilih saham untuk dibeli tentu bukan urusan main-main. Perlu pengetahuan cukup agar investasi di bursa saham mendatangkan keuntungan.

Hal itu dibuktikan salah satu investor saham Aab Abdullah (49). Dengan modal awal Rp 3 juta, strategi Aab berhasil mendatangkan keuntungan hingga Rp 180 juta selama enam bulan.

“Saya memutuskan menanamkan saham di salah satu emiten (penerbit saham) BUMN. Lama-lama, saya menambah investasi untuk membeli beberapa saham lain, termasuk saham BUMD perbankan,” tutur Aab kepada Kompas.com, Jumat (2/12/2016).

Tak hanya itu, kinerja perusahaan perlu juga dipertimbangkan. Cermati laporan keuangannya karena jumlah keuntungan akan menentukan besaran deviden bagi pemilik saham.

Halaman:
Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.