Pemerintah Campur Sampah Plastik dengan Aspal

Kompas.com - 12/07/2017, 14:43 WIB
Warga melintas di Kali Gendong, Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/3/2017). Kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah sembarangan mengakibatkan sampah plastik dari rumah tangga nyaris menyerupai daratan tersebut menumpuk di sepanjang Kali Gendong. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGWarga melintas di Kali Gendong, Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/3/2017). Kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah sembarangan mengakibatkan sampah plastik dari rumah tangga nyaris menyerupai daratan tersebut menumpuk di sepanjang Kali Gendong.
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Guna mengatasi persoalan sampah plastik, pemerintah akan menggunakan campuran sampah plastik dengan aspal untuk pembangunan jalan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, proyek ini baru memasuki tahap uji coba dan akan dijalankan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Menurut Luhut, ada beberapa manfaat positif yang bisa didapatkan jika sampah plastik bisa digunakan untuk pembangunan jalan di Indonesia.

Selain mengurangi jumlah sampah plastik yang setiap tahunnya bertambah, pencampuran plastik dengan aspal juga bisa menghemat pembangunan biaya infrastruktur jalan.

"Kami sudah mulai pilot project, bulan depan," di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (13/7/2017).

Luhut mengungkapkan, dalam melakukan uji coba tersebut, Indonesia telah belajar terlebih dahulu kepada India yang telah sukses menjalankan cara tersebut untuk pembangunan jalan.

"Kita belajar dari mana? Dari India, dan India sudah buat 120.000 kilometer jalan," papar Luhut.

Selain itu, beberapa tim ahli dari Kementerian PUPR telah melihat langsung ke India untuk melihat langsung proyek jalan yang lapisan aspalnya menggunakan campuran sampah plastik.

"Ada tiga keuntungan, satu cost-nya (pembangunan) jalan itu berkurang 7 persen. Kedua, maintenance (perawatan) dari jalan itu berkurang, karena ini jadi lebih kuat, dan ketiga tentu sampah jadi kurang," ungkapnya.

Menurutnya, persoalan sampah plastik perlu penanganan yang lebih terintegrasi dan sentuhan teknologi, agar sampah plastik bisa digunakan dan tidak menjadi sampah yang membahayakan bagi kesehatan dan juga pencemaran di laut.

"Plastik ini bahaya kalau dimakan ikan, dan ikan dimakan manusia, akan terkontaminasi pada bayi segala macam, masa kita mau generasi kita yang akan datang generasi yang DNA punya kelamahan sana sini," jelas Luhut.

Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan mulai melakukan pencampuran sampah plastik dengan aspal yang akan diaplikasikan di beberapa ruas jalan wilayah Bekasi.

Proyek percontohan tersebut dimaksudkan untuk mengatasi masalah penumpukan plastik di Indonesia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X