Perang Suku Bunga Deposito Perbankan, Ini Komentar BI

Kompas.com - 18/01/2019, 17:20 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ketika ditemui awak media selepas Sholat Jumat di Masjid BI, Jumat (9/11/2018). Kompas.com/Mutia FauziaGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ketika ditemui awak media selepas Sholat Jumat di Masjid BI, Jumat (9/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat ini bank-bank di dalam negeri tengah memasuki era suku bunga tinggi. Perang bunga deposito pun tidak terhindari.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Bank Indonesia ( BI) Perry Warjiyo menilai wajar tren suku bunga deposito yang cenderung tinggi. Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya rata-rata deposito perbankan dalam negeri.

Salah satunya karena sumber pendanaan atau funding dari perbankan sebagian besar berasal dari ritel.

"Wajar kalau suku bunga deposito itu merespon lebih cepat kenaikan suku bunga BI, karena memang funding perbankan sebagian besar ritel, nah makanya kalau suku bunga BI naik, suku bunga pasar uang naik, ritel funding bank-nya harus naik, kan seperti itu," ujar Perry ketika memberikan penjelasan kepada awak media di kantornya, Jumat (18/1/2019).

Baca juga: Arah Kebijakan Suku Bunga Hampir Capai Puncak, Ini Penjelasan BI

Selain itu, Perry juga mengatakan, upaya BI untuk melonggarkan likuiditas melalui kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) rerata tidak cukup untuk bisa menarik dana masuk ke dalam negeri. Tahun lalu, aliran modal sebagian besar keluar dari Indonesia dan menyebabkan likuiditas rupiah di dalam negeri berkurang.

"Artinya likuiditas bank-bank yang dulunya tidak hanya ritel tapi juga dari luar negeri berkurang," ujar Perry.

Perry mengatakan, perbankan lebih memilih untuk melakukan berbagai efisiensi sehingga bisa menjaga agar suku bunga kredit tetap rendah. Perbankan memilih untuk mengurangi spread atau selisih suku bunga deposito dengan suku bunga kredit.

" Kredit korporasi masih di bawah 10 persen, kalau konsumsi 11 persen, jadi bank-bank lebih banyak meningkatkan efisiensi dan langkah lain sehingga spread suku bunga kredit dan funding menyempit," ujar dia.

Baca juga: OJK Minta Perbankan Tak Buru-buru Respon Kenaikan Bunga Acuan

Sebagai catatan, berdasarkan data indikator likuditas Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), rata-rata bunga deposito rupiah (dihitung dengan rata-rata bergerak 22 hari) bank benchmark LPS pada akhir Desember 2018 mencapai 6,15 persen, naik 10 bps dari posisi akhir bulan sebelumnya.

Hal yang sama terjadi pada rata-rata suku bunga minimum yang naik 4 bps ke posisi 4,99 persen dan suku bunga maksimum yang meningkat 16 bps menjadi 7,31 persen. Sementara itu, rata-rata bunga deposito valas industri mengalami kenaikan sebesar 7 bps pada bulan lalu menjadi 1,23 persen.

"BI dan OJK terus koordinasi baik dengan pemantauan secara industri maupun individu, kami akan pastikan likuiditas cukup di pasar uang dan perbrankan," ujar Perry.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Whats New
Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

Rilis
Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Whats New
Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Whats New
Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Whats New
Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Whats New
Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Whats New
Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Whats New
IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

Whats New
Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Rilis
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Work Smart
Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Whats New
Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Whats New
Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X