Indonesia Harus Siapkan Kebijakan Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Kompas.com - 17/04/2019, 17:29 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati seusai mencoblos di Bintaro, Tangerang, Rabu (17/4/2019).KOMPAS.com/MURTI ALI LINGGA Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati seusai mencoblos di Bintaro, Tangerang, Rabu (17/4/2019).

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) melaporkan ekonomi global tengah mengalami pelemahan. Ini salah satu poin dari pertemuan yang digelar di Washington DC pada 8-13 April lalu.

Melihat kondisi itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan kondisi rill itu menjadi tantangan buat Indonesia. Karena itu, Indonesia harus punya langkah strategis untu menghadapi tantang ekonomi dunia tersebut.

"Namun kita tahu di 2019 ini tantangannya (ekonomi global) berbeda. Jadi kita juga harus tetap menjaga space kebijakan fiskal dan moneter," kata Sri Mulyani di Tengerang Selatan, Rabu (17/4/2019).

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Pelemahan Ekonomi Global Jadi Tantangan Indonesia

Menurut Sri Mulyani, Indonesia harus memiliki ruang yang cukup terhadap antisipasi apapun yang terjadi di dunia, termasuk soal melemahnya ekonomi global. Adanya kelonggaran kebijakan terkait fiskal dan moneter diharapkan bisa mengantisipasi segala situasi yang terjadi.

"Itu kalau terjadi perlemahanan, apakah kita masih punya space melakukan dorongan ekonomi. Kalau sempat terjadi ketegangan global dari sisi perdagangan, bagaiaman kita meresponnya," ungkapnya.

Dia menambahkan, di tengah perlemahan ekonomi global itu, namun masih ada harapan cemerlang untuk dunia, seperti yang muncul pada pertemuan IMF, yakni pertumbuhan dari kenaikan suku bunga tidak berlanjut, perang dagang antara AS dan China kemungkinan ada titik temu, dan beberapa kebijakan bank sentral dunia yang kebijakannya mengantisipasi perlemahan ekonomi.

"Jadi ini ada positifnya dan kita juga harus hati-hati," imbuhnya.

Baca juga: Ini Faktor IMF Memangkas Pertumbuhan Ekonomi Global 2019

Dikatakannya, karena ekonomi kini mengalami perlemahan maka IMF memutuskan untuk merevisi pertumbuhan ekonomi dunia dari proyeksi sebelumnya 3,9 persen menjadi 3,3 persen saja.

Perlemahan ekonomi dunia itu ditenggarai dari negara-negara maju di luar Amerika Serikat yang mengalami perlemahan. Tak tekecuali China dan negara-negara berkembang.

Indonesia, kata dia, harus melihat kondisi perlemahan global yang cukup drastis dibandingkan proyeksi awal.

"Proyeksi awal kan 3,9 persen direvisi turun jadi 3,5 persen, 3,7 persen, dan sekarang 3,3 persen. Berarti ini adalah tantangan eksternal buat kita," rincinya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X