Gara-gara 737 Max, Laba Boeing Merosot 21 Persen

Kompas.com - 25/04/2019, 06:32 WIB
Pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 saat terbang untuk pertama kalinya di Renton, Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru dan populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui. AFP PHOTO/GETTY IMAGES/STEPHEN BRASHEARPesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 saat terbang untuk pertama kalinya di Renton, Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru dan populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui.

OHIO, KOMPAS.com - Laba Boeing tercatat merosot hingga 21 persen pada kuartal I-2019 lantaran krisis yang melanda perusahaan produsen pesawat asal Amerika Serikat tersebut.

Pasalnya, hampir seluruh negara di dunia memutuskan untuk mengandangkan pabrikan 737 Max yang merupakan produk bestseller dari Boeing.

Seperti dikutip dari CNN, Rabu (25/4/2019) Boeing mencatatkan penurunan pendapatan dan laba jika dibandingkan dengan tahun lalu. Padahal sebelumnya, perusahaan begitu optimistis terhadap prospek pendapatan dan laba di 2019.

"Karena adanya ketidakpastian terkait kapan dan kondisi apa yang bisa membuat 737 Max kembali beroperasi, outlook baru perusahaan akan diterbitkan dalam waktu dekat," jelas paparan kinerja Boeing.

Boeing pun menghentikan program pembelian kembali sahamnya. Sebelumnya, mereka telah membeli kembali saham sebesar 6,1 juta lembar saham atau setara dengan 2,3 miliar dollar AS pada kuartal I-2019 sebelum rama pengandangan Boeing 737 Max.

Program pembelian kembali saham mereka akan dilanjutkan ketika 737 Max sudah kembali beroperasi.

Boeing tidak memberikan rincian besaran seluruh biaya yang harus dibayarkan lantaran krisis yang disebabkan 737 Max. Namun, dalam presentasi kepada investor Boeing mengatakan pihaknya telah mengalokasikan biaya untuk menyelesaikan perbaikan pesawat tersebut.

Mereka mengatakan, biaya untuk membuat Max akan 1 miliar dollar AS lebih pada kartal ke depan karena mereka juga harus memecahkan masalah apa yang menimpa armada pesawat tersebut.

Adanya perlambatan dalam proses produksi pesawat pun mengurangi efisiensi perakitan Boeing.

Boeing pun mengaku terus merakit 737 Max meskipun telah menghentikan pengiriman. Namun, jumlah produksei pesawat jenis tersebut dari 52 sebulan menjadi 42.

Boeing juga harus mengeluarkan biaya untuk melakukan perawatan dari pesawat yang sudah selesai diproduksi namun tidak bisa mereka kirimkan.

Para pimpinan Boeing pun tidak bisa memastikan kapan pengandangan armada pesawat mereka akan berakhir. Bahkan, mereka tidak tahu kapan bisa mengirimkan pesanan pesawat 737 Max-nya lagi.

"Kami akan terus menerapkan sumber daya apa pun yang diperlukan untuk mengembalikan 737 Max agar bisa kembali terbang dan untuk bisa merealisasikan itu butuh waktu beberapa saat," kata Chief Financial Officer Boeing Greg Smith.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X