Meski Peringkat Naik, Ini Masih Jadi PR Besar Indonesia

Kompas.com - 01/06/2019, 15:03 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati seusai menyampaikan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun anggaran 2020 dalam Rapat Paripurna ke 17 DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/5/2019).KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati seusai menyampaikan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun anggaran 2020 dalam Rapat Paripurna ke 17 DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/5/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengapresiasi kenaikan peringkat sovereign credit Indoneisa, dari BBB- menjadi BBB oleh S&P.

Menurut dia, kenaikan cukup signifikan itu menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih bagus dari negara-negara peers. Banyak negara lain yang performa pertumbuhannya kurang bagus karena berbagai tekanan global dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, kata Sri Mulyani, Indoneisa juga dapat menjaga rasio utang dengan baik sehingga menjadi rekam jejak yang bagus untuk menaikkan peringkat tersebut.

Baca juga: Kado Lebaran, Peringkat Daya Saing dan Kredit RI Naik

Ditambah dengan tren defisit neraca perdagangan yang mengalami penurunan sejak awal tahun 2019 dan pemilu yang kondusif.

"Tentu mereka punya pandangan optimistik, dengan selesainya Pemilu, komitmen melalukan reformasi sehingga pertumbuhan kinerja ekonomi juga lebih baik," kata Sri Mulyani.

Di balik kekuatan ekonomi tersebut, Sri Mulyani mengaku masih banyak PR besar yang harus diselesaikan ke depannya. Pertama, pemerintah masih perlu memperbaiki rata-rata pendapatan per kapita.

 

Baca juga: Peringkat RI Naik, BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi Masih Kuat

Jika masih di bawah 5.000 dollar AS, maka sulit untuk mendongkrak rating karena dianggap ada celah untuk rapuh.

"Jadi harus mampu menerjemahkan kemajuan pembangunan kita dalam bentuk income perkapita masyarakat kita rata-rata harus meningkat," kata Sri Mulyani.

Kedua, external balance di Indonesia masih menjadi kendala untuk bisa terus maju. Oleh karena itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menekankan pentingnya menggenjot investasi dan impor. Kedua hal tersebut bisa memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan dan mengatasi defisit.

Baca juga: Naik Signifikan, Daya Saing Indonesia di Posisi 32 Dunia

Ia menambahkan, dalam kondisi yang bergejolak seperti ini, arus modal mudah mengalami perubahan.

"Maka harus berjuang agar capital yang masuk ke Indonesia sifatnya lebih longterm sehingga tidak gampang terganggu situasi global yang sekarang ini gampang berubah," kata perempuan yang akrab disapa Ani tersebut.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X