Menerka Kekuatan Sebuah Mata Uang dari Burger

Kompas.com - 13/07/2019, 12:41 WIB
Big Mac hadir memanjakan konsumen Indonesia sejak tahun 1991. KOMPAS.COM/gaby bunga saputraBig Mac hadir memanjakan konsumen Indonesia sejak tahun 1991.

NEW YORK, KOMPAS.com - Sejumlah politisi dan pelaku pasar meyakini kurs dollar AS terlalu kuat dibandingkan rival-rivalnya. Ternyata, salah satu indikatornya adalah dari makanan, yakni burger.

Mengapa bisa?

Dikutip dari CNN, Sabtu (13/7/2019), majalah The Economist memiliki indeks yang dinamakan Big Mac Index. Ini adalah cara mudah untuk mengetahui nilai mata uang dan nilai-nilai mata uang lain lebih rendah dari nilai dollar AS.

The Economist meluncurkan Big Mac Index teranyarnya baru-baru ini. Indeks tersebut didasarkan pada teori daya beli alias purchasing power parity.

Nilai tukar memengaruhi nilai barang yang bisa dibeli. Apabila mata uang X dapat membeli barang dengan harga yang lebuh murah dibandingkan mata uang Y, maka mata uang X secara komparatif lebih murah atau undervalue, sementara mata uang Y sebaliknya.

Baca juga: Ketika Harga Burger Mencerminkan Ekonomi

Penguatan mata uang dollar AS, menurut indeks tersebut, bukan hal baru. Akan tetapi, dalam enam bulan terakhir, kurs dollar AS terpantau menguat.

Sementara itu, pesaing utama dollar AS, yakni euro merosot cukup tajam terhadap dollar AS sejak awal tahun. Dengan demikian, harga burger Big Mac McDonald's kini 19 persen lebih murah di kawasan Eropa ketimbang di AS, dibandingkan 17 persen pada tahun lalu.

Adapun mata uang rubel Rusia merupakan yang paling murah terhadap dollar AS, yakni 65 persen. Harga Big Mac di Rusia adalah 130 rubel atau 2 dollar AS, sementara di AS mencapai 5,74 dollar AS.

Adapun mata uang franc Swiss merupakan satu-satunya yang lebih mahal dibandingkan dollar AS. Di kota Zurich di Swiss, harga Big Mac mencapai 6,5 franc atau sekira 6,6 dollar AS.

Baca juga: Minim Sentimen, Rupiah Melemah Tipis terhadap Dollar AS

Ini membuat mata uang franc 14 persen lebih kuat. Adapun berdasarkan ICE US Dollar Index, kurs dollar AS menguat 0,9 persen tahun ini.

Sepanjang 2018 lalu, kurs dollar AS menguat 4 persen. Penguatan dollar AS sepanjang tahun lalu lebih banyak didorong oleh langkah bank sentral AS Federal Reserve menaiklan suku bunga.

Suku bunga yang lebih tinggi membuat aset di sebuah negara, termasuk mata uangnya, lebih atraktif bagi investor.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber CNN
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X