Terungkap, Alasan Milenial Benci Pekerjaannya

Kompas.com - 31/07/2019, 18:18 WIB
Ilustrasi stres, frustasi trumzzIlustrasi stres, frustasi

NEW YORK, KOMPAS.com - Generasi milenial kerap dianggap memiliki perilaku yang jauh berbeda dengan generasi-generasi pendahulunya. Ini termasuk pandangan dan perilaku mereka tentang karier dan pekerjaan.

Ada anggapan yang menyebut pikiran generasi milenial selalu ke mana-mana saat bekerjaan. Selain itu, mereka juga sering dianggap malas, susah diatur, tidak terlibat, dan menuntut hak.

Namun demikian, menurut psikoterapis Tess Brigham yang 90 persen pasiennya merupakan generasi milenial, sebenarnya generasi muda tersebut sangat cerdas, idealis, beragam, dan ambisius. Akan tetapi, Brigham sependapat bahwa anak-anak muda ini susah payah bekerja di kantor.

"Setiap pasien milenial saya berada di satu titik di mana ia berkata membenci pekerjaannya," kata Brigham seperti dikutip dari CNBC, Rabu (31/7/2019).

Baca juga: Jangan Remehkan, Kenali 5 Sumber Stres di Kantor

Nah, mengapa milenial kerap membenci pekerjaan mereka?

Milenial memang kini mendominasi angkatan kerja. Akan tetapi, berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan Gallup, sebanyak 71 persen dari mereka tidak terlibat di kantor dan setidaknya 60 persen terbuka untuk peluang kerja baru.

Riset Gallup tersebut memadukan 30 studi dan data terpisah dari lebih dari 1 juta responden. Studi itu menemukan bahwa angkatan kerja milenial kerap ingin untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

"Mereka tidak menempatkan energi atau semangat mereka ke pekerjaan. Mereka cuek terhadap pekerjaan dan hadir ke kantor hanya untuk mengisi waktu," tulis Gallup dalam risetnya.

Baca juga: Stres Akibat Pekerjaan, Saatnya Anda Coba Konsultasi Online

Sebenarnya, ada banyak alasan mengapa keterlibatan milenial dalam pekerjaan amat rendah. Namun, ada beberapa alasan utamanya.

Alasan pertama, mereka memiliki ekspektasi yang tinggi dan tidak realistis terkait seperti apa kehidupan kerja sehari-hari mereka.

Kedua, milenial kerap tidak sabar dan mengalami frustrasi. Pasalnya, mereka ingin karier mereka menanjak dalam hitungan bulan, bukan hitungan tahun.

Baca juga: Studi Ungkap Penyebab Utama Stres di Kantor

Alasan ketiga, generasi muda ini mengalami kelebihan beban media sosial. Kondisi ini dapat menciptakan distorsi realitas di mana orang lain tampak memiliki kehidupan yang menakjubkan.

Keempat, faktor perusahaan. Maksudnya, perusahaan tidak memberikan mereka peluang baru atau alasan yang meyakinkan mereka untuk bertahan.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber CNBC
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X