Storynomics Tourism Jadi Pendekatan Genjot Ekonomi dari Pariwisata

Kompas.com - 01/08/2019, 13:17 WIB
Presiden Joko Widodo mengunjungi Dermaga Jety Samosir di kawasan Pantai Pasir Putih, Samosir, Sumut, Selasa (30/7/2019). Kedatangan Presiden itu untuk meninjau pengembangan wisata di kawasan Danau Toba yang akan dijadikan destinasi wisata berkelas dunia. ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAYPresiden Joko Widodo mengunjungi Dermaga Jety Samosir di kawasan Pantai Pasir Putih, Samosir, Sumut, Selasa (30/7/2019). Kedatangan Presiden itu untuk meninjau pengembangan wisata di kawasan Danau Toba yang akan dijadikan destinasi wisata berkelas dunia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Konsep storynomics tourism bakal digunakan untuk mengakselerasi percepatan pembangunan wisata di lima kawasan destinasi super prioritas di Indonesia.

Danau Toba adalah salah satu dari lima kawasan destinasi super prioritas, selain Borobudur, Manado, Mandalika, dan Labuan Bajo.

Irfan Wahid, yang ditugaskan Presiden Jokowi untuk memimpin tim Quick Win 5 Destinasi Super Prioritas Pariwisata, memperkenalkan konsep tersebut.

“Kami memperkenalkan formula Storynomics Tourism. Sebuah pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, dan living culture serta menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi,” kata Irfan dalam keterangannya, Kamis (1/8/2019).

Baca juga: Pengembangan Destinasi Super Prioritas Danau Toba Dipercepat

Dia mencontohkan, kisah-kisah dari kawasan Danau Toba sejatinya begitu banyak namun tak pernah digarap dengan benar-benar optimal.

Selain itu, kata Irfan, storynomics tourism juga akan memanfaatkan fakta sejarah bahwa Toba merupakan hasil dari letusan gunung berapi dahsyat ketiga di dunia yang menyusutkan populasi dunia sampai 60 persen pada saat itu.

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Danau Toba.Dok. Istimewa Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Danau Toba.

"Selain itu, storynomics tourism juga perlu mengangkat budaya Batak yang begitu luar biasa yang selama ini kurang terbangun narasinya dengan baik,” sebut Irfan.

Baca juga: Tindak Lanjuti Jokowi soal Danau Toba, Kemenhub-PUPR Berkolaborasi

Menurut dia, pariwisata tak bisa lepas dari awareness dan experience. Hasilnya adalah testimoni, baik positif maupun negatif.

"Awareness berkaitan dengan marketing, sedangkan experience berkaitan dengan faktor aksesibilitas, amenitas, dan atraksi (3A) yang melekat ke setiap destinasi- destinasi wisata. Kedua hal tersebut harus menjadi satu kesatuan yang padu,” ucapnya.

Saat ini, kata Irfan, pihaknya telah memetakan sekitar 28 titik destinasi wisata di kawasan Toba yang akan dibagi ke dalam empat klaster. Ke depannya, klaster tersebut akan dibantu untuk mempersiapkan kebutuhan 3A-nya.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X