Semester I 2019, Pemerintah Tarik Utang Rp 241,2 Triliun Lewat SBN

Kompas.com - 26/08/2019, 14:24 WIB
ilustrasi rupiah thikstockphotosilustrasi rupiah

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah kerap kali menerbitkan Surat Berharga Negara ( SBN) pada 2019. Bahkan dalam bulan-bulan tertentu, penerbitan surat utang itu bisa dilakukan setiap minggu.

Lantas, berapa utang yang sudah ditarik pemerintah hingga selama periode Januari-Juli 2019?

Data Kementerian Keuangan menunjukkan realisasinya mencapai Rp 241,2 triliun.

"Ini baru 62 persen dari target di APBN 2019," ujar Ditektur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman dalam konferensi pers APBN KITA, Jakarta, Senin (26/8/2019).

Baca juga: 2020, Pemerintah Berencana Terbitkan SBN Senilai Rp 389,3 Triliun

Pada 2019, target penerbitan SBN mencapai Rp 389 triliun. Angka ini lebih kecil dari target APBN 2018 lalu yang hanya Rp 414,5 triliun.

Meski begitu, realisasi penerbitan SBN yang mencapai Rp 241,2 triliun lebih besar dari realisasi akhir Juli 2019 yang hanya Rp 221,9 triliun.

Menurut Luky, kenaikan realisasi SBN merupakan bagian dari strategi front loading atau menarik utang lebih awal dalam memanfaatkan situasi pasar keuangan di semester I 2019.

"Juga ketersediaan likuiditas di pasar pada semester I 2019," kata Luky.

Itu artinya, pemerintah akan terus menerbitkan surat utang sekitar Rp 142 triliun untuk memenuhi target APBN 2019 yang sebesar Rp 389 triliun.

Adapun dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( RAPBN) tahun 2020, pemerintah berencana menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 389,3 triliun.

Baca juga: Gusur Baby Bommers, Milenial Jadi Investor Terbanyak SBN Ritel

"Penerbitan SBN merupakan salah satu strategi pemerintah dalam menekan pembiayaan anggaran yang membuat anggaran defisit di tahun 2020," ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Jumat (16/8/3019).

Untuk waktunya, pemerintah bakal membuka peluang untuk menerbitkannya di semester II 2019 atau front loading.

"Kita akan lihat kesempatan di semester II 2019 untuk front loading. Besaran SBN sendiri tumbuh 2 persen dibanding tahun ini," ucap Sri Mulyani.

Seperti diketahui, penerbitan SBN merupakan salah satu cara untuk menutup defisit anggaran tahun 2020, yang biasanya anggaran tersebut digunakan untuk membiayai utang, investasi minus, pemberian pinjaman, kewajiban pinjaman minus, dan pembiayan lainnya.

Adapun pembiayaan utang tahun 2020 sebesar Rp 351,9 triliun, investasi minus sebesar Rp 74,2 triliun, pemberian pinjaman sebesar Rp 5,2 triliun, kewajiban pinjaman minus sebesar Rp 600 miliar. Sementara pembiayaan lain-lain sebesar Rp 25 triliun.

Baca juga: Defisit Anggaran Terus Melebar, Akhir Tahun Diprediksi Lampaui UU APBN 2019

Terkait target, defisit tahun 2020 ditargetkan akan sebesar 1,76 persen dari PDB atau sekitar Rp 307,2 triliun.

"Tapi target defisit tahun 2020 memang lebih rendah dibanding outlook tahun 2019. Tahun 2019 sebesar Rp 310,8 triliun," ungkap Sri Mulyani.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X